Kamis, 25 Desember 2008

Love will set you free...

Love will set you free...

Benarkah?

Lalu apa yang dapat dikatakan, saat cinta mengukung dengan sedekimian hebatnya, hingga terasa menyakiti?

Ketika cinta berpaling,maka siapakah yang paling merasa sakit?

Tentunya yang mencintai, dan bukannya yang dicintai.

Maka dimanakah: Love will set you free?

Tidak ada perasaan merdeka yang benar-benar dalam suatu cinta. Selalu ada rasa cemburu, resah, kebosanan,dan curiga.

Love will set you free?

Free?

Mungkin, hanya ada satu cinta yang akan selalu membebaskan. Dan itulah cinta yang benar2 hakiki.  Cinta pada Illahi Rabbi. Yang akan membebaskan. Dan selalu indah, bahkan sebelum waktunya benar-benar indah.

Love will set you free...

Believe?

Insya Allah...

Sabtu, 20 Desember 2008

Harun Yahya Akan Dipenjara???

Di tengah hari yang indah dalam aktivitas yang masih sangat padat, saya mendapatkan sebuah berita aneh ketika membuka email.

Adnan Oktar alias Harun Yahya terancam dipenjara tiga tahun! Dalam artikel itu, disebutkan bahwa karya-karya harun yahya dianggap menyebarkan kebencian dan fitnah.

Membaca artikel itu, saya berpikir,Benar atau sekedar hoax ya?

Memang Harun Yahya telah berkali-kali dijebak dalam makar kaum kuffar. beliau pernah masuk penjara karena sejumlah besar kokain ditemukan di rumahnya. Beliau juga pernah dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Begitu banyak makar yang telah dilaluinya, dan Alhamdulillah Allah menyelamatkannya hingga sekarang.

Dan ini, apalagi?

Jumat, 05 Desember 2008

Kapan Kakiku Menginjak Surga???

Lelah...

Tapi kapan waktunya

bagi seorang muslim

untuk beristirahat?

Imam Ahmad bin Hanbal dengan tenang menjawabnya

"Ketika kakinya menginjak surga."

Hmm...begitulah hidup. Boleh curhat sedikit? Tidak bolehpun,aku tetap curhat. Kan di blog pribadi nih.

Rasanya, hidup semakin sesak. Amanah bertumpuk, berjejalan nyaris keluar dari sistem persarafan. Luber ke jantung.

Di CIMSA, ada amanah untuk jadi Sub Unit Penyuluhan Malaria ke sekolah2. Acaranya memang masih lama, tapi persiapannya udah dimulai dari sekarang.

Di FLP, ada seabrek tanggung jawab: mading, buletin DZero yang belum diprint sampai sekarang, padahal harusnya terbit bulan November

Di Lembaga Dakwah kampus, Asy-Syifaa', ada amanah untuk menjadi penanggung jawab mading. yang sedang macet karena anggotanya pada sibuk.

Di kepanitaan ini itu, ada segudang pekerjaan yang menunggu. 

Tanggal 13 bulan ini, ujian blok Jantung dan Pembuluh darah.

Ini capek fisik dan otak. Secara ruhiyah:

Kemarin baru 'nyaris' bertengkar dengan seorang teman baik karena persoalan yang sebenarnya tak perlu dipertengkarkan (beda pendapat, boleh kan?)

Hafalan Qur'an udah berhenti entah dimana.

Amalan2 udah terbang ke langit, yang di bumi entah apa.

Dsb, dll, dst...

Pada akhirnya

Hasbiyallahu wa ni'mal maula wa ni'mal wakiil...

Cukuplah Allah sebagai pelindung

Rabu, 03 Desember 2008

Sentuhlah Dia Tepat di Hatinya

Seorang dosenku pernah berkata,"Bukan hi-tech masalah kita. Tapi Hi-Touch."

Touch. Sentuhan.

Ya,semakin lama,saat jaman bergeser ke arah kemajuan,

semakin canggih teknologi kita,

maka ada yang semakin hilang.

Perhatian yang semakin berkurang...

Dan sentuhan pada manusia...

Dosen ini bercerita tentang suatu kasus di rumah sakit. Saat ini teknologi dalam bidang pengobatan tengah berkembang dengan pesatnya, dan banyak peralatan medis yang dapat dioperasikan otomatis. Dengan satu tombol, data tentang tekanan darah pasien, denyut nadi,suhu tubuh dan sebagainya dapat terukur. Cepat dan akurat. Dokter tidak lagi harus menjelajahi satu lengan pasien untuk mencari denyut nadi. Tidak perlu lagi meraba dahi pasien untuk merasakan suhu tubuh. Semua dapat dilakukan dengan satu tombol.

ya, hanya dengan satu tombol.

Tapi apa yang terjadi?

Suatu hari alat pengukur tekanan darah di rumah sakit itu rusak, dan dokter ini tidak diberitahu. Dia datang pagi-pagi dan langsung dihadapkan dengan pasien. Sedikit menekan tombol, dia telah mendapatkan data tekanan darah, denyut nadi,dll dari si pasien. Semua terlihat normal. 

Hanya beberapa waktu berselang, pasien tersebut meninggal dunia. Dan sang dokter baru diberitahu bahwa alat tersebut rusak setelahnya.

See?

Dalam dunia kesehatan, masalah tekanan darah adalah suatu masalah yang memilki urgensi sangat tinggi. Tekanan darah yang tidak terkendali, merupakan suatu gejala gangguan sistem kardiovaskular (jantung-pembuluh darah). bicara tentang jantung dan pembuluh darah, maka itu adalah pekerjaan kedaruratan dimana nyawa manusia dipertaruhkan. Ketepatan yang dibutuhkan menyangkut menit. Dalam 4 menit jantung berhenti, kematian sel-sel otak (biologis) terjadi, pasien lewat. Dalam 4 menit atau maksimal 6 menit, sebuah keluarga dapat kehilangan orang-orang yang dia cintai.

Mungkin sedikit sentuhan bisa menyelesaikan segalanya. Tanpa bermaksud berandai-andai, jika si dokter ini sempat sedikit saja meraba pergelangan tangan pasien ini, dia akan tahu bahwa denyut nadinya abnormal. Tindakan kedaruratan dapat segera dilakukan dan pasien ini akan dapat melewati krisis. Tapi ia tidak melakukannya. Dan ini salah.

Dan berapa banyak sentuhan dalam hidup yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang?

Bahkan yang bukan dokter pun dapat melakukannya.

Dalam insidensi kasus bunuh diri di kota-kota besar, sebagian orang yang melakukannya adalah orang-orang yang kesepian. Bagaimana seseorang dapat merasa sepi?

Saat hidupnya sepi dari sentuhan, bahkan sentuhan verbal.

Saya ingat sebuah kisah di Chicken Soup for Teen Soul,

Seorang siswi SMU yang tengah mengalami depresi hebat memutuskan untuk bunuh diri. Di malam tahun baru, di saat kedua orang tuanya keluar rumah untuk menghadiri sebuah acara, dia memutuskan bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan.

Nah, dia keluar rumah dengan hati hancur. Sebelum mati, ia ingin meninggalkan surat untuk orang tuanya. Maka ia membuka kotak surat.

Di dalamnya ada beberapa surat, dan salah satu surat itu ditujukan untuknya.

Jantungnya berdentang-dentang seperti bunyi bel raksasa. Seumur hidup dia tidak punya teman, dan tidak ada yang bicara dengan tulus padanya, apalagi menulis surat.

Isi suratnya sederhana: tawaran untuk berteman.

Dan dia masuk ke rumahnya. Hari itu, ia memutuskan untuk tetap hidup.

See again?

Ada sentuhan verbal di sana. Sentuhan yang membawa "kehidupan" bagi manusia lain. Dan yang bukan dokter pun dapat melakukannya.

Siapa saja dapat melakukannya.

Jadi, sentuhlah orang-orang yang ada di dekatmu. Karena satu sentuhan dapat membwakan makna yang begitu besar dalam hidup.

Selasa, 02 Desember 2008

Bukan Sekedar Mencari Jodoh

Bukan salah saya, jika saya selalu saja bertemu dengan orang-orang yang mencari jodohnya di dunia maya. Seperti seseorang teman di YM yang terpaksa saya offline kan untuk selamanya. 

sebenarnya bukan karena dia asyik bicara tentang nikah aja sih, tapi karena dalam pembicaraan kami yang terasa sangat mendzalimi (soalnya saya hanya boleh dengar, gak boleh ikutan komentar ataupun mengganti topik) dan berdurasi nyaris 2 jam itu, dia memaksa saya menerima semua ide2nya.

Saya: Tapi kan.. (pertama)

Teman: kamu kok gitu sih? (kayak lagu.hehe) masa kamu mikir gitu

Saya: bukan gitu, tapi...(masih sabar)

Teman: eh,pikiran kamu kok sempit banget.

Saya:(mulai naik pitam)saya kan berhak ngasih pendapat juga (udah di perbatasan kesabaran)

Teman: emang susah kalau cewek pikiran sempit

AAargh... Astaghfirullah... Kesaaaal! kesal banget. Trus ngobrolnya gak boleh diganti topik. harus soal nikah terus. Sampai saya tanya,

Saya: kamu kok suka banget ngobrol soal nikah?

Teman: kan sunnah rasul

Saya: tapi kan gak harus mikirin itu terus 24 jam?

Teman: tapi itu kan urgen banget

Saya: iya, tapi ada hal2 penting lain yang bisa diomongin kan

Teman: emang kamu mau bilang masalah nikah ini gak penting?

Gubrak dot com deh. Plis...masalah nikah emang penting. Urgen juga. Umat ini perlu regenerasi, penerus estafet dakwah yang berkelanjutan. Tapi,menjadikan nikah sebagai satu2nya topik yang pantas dan harus dibicarakan, sehingga mengesampingkan hal2 lain yang tak kalah pentingnya (seperti perasaan lawan bicara yang emosinya udah naik ke ubun2), apa tidak menunjukkan kemandekan pikiran?

Hufff...Capek banget

trus pas saya iseng tanya

Saya: emang gimana cara cari jodoh yang tepat

Teman: ya seperti ini. Ngobrol, trus kenalan (kebalik ya?) setelah itu difollow up

Jadi...dari tadi dia mau ngobrol sama saya untuk evaluasi calon istri?

TIDAAAAK!

Langsung saya permisi, dan say goodbye forever.

Ya Allah....itu momen paling mengherankan dan ngeselin dalam hidup saya.

Yang menjadi bahan pemikiran setelah itu, berapa banyak orang seperti Teman saya yang baik itu? Mungkin dia bukanlah orang pertama. Mungkin dia juga tidak sendiri. Ada banyak orang yang ikhtiar mencari jodoh dari depan komputer mereka. Salahkah itu? Entahlah. Mungkin karena keyakinan saya tentang asal usul jodoh masih sangat idealis sekali, jadi saya merasa tidak berhak menghakimi Teman saya itu,dan orang2 yang seperti dia. Meski agak gerah juga. Karena tujuan saya menjelajahi dunia maya lebih ke petualangan mencari ilmu, hikmah, dan ukhuwah yang berserakan, kehadiran orang2 seperti Teman saya yang baik itu menjadi batu kerikil yang harus diwaspadai (maaf ya kalau agak kasar).

Dan dimanapun ada adab dalam melakukan segala sesuatu.

Karena di dunia maya seperti ini pun, hukum Allah tetap berlaku kan? Meski di YM kita dapat ngobrol secara privat dengan siapapun, dengan gaya bahasa separah apapun, dan pikiran bahwa tdak ada yang melihat, hukum Allah masih tetap berlaku. Dia melihat setiap kata yang kita ketikkan di layar, tiap foto atau gambar yang kita privatekan di FS, dan semuanya...

JAdi, jangan merasa Aman dari perhitunganNya!

Wallahua'lam

Astaghfirullah..

Senin, 01 Desember 2008

Seven Miracle In A Week

apa yang bisa kukatakan lagi?

begitu banyak perasaan yang tercampur aduk di hatiku.

bingung, gembira, sedih, kecewa, doa, juga hal yang dilepaskan pandora dari kotak pemberian dewa2 (katanya sih), asa

Dalam hidupku selama seminggu belakangan ini, banyak kejadian ajaib yang menemani hari2ku, jika diurutkan dari awal:

1. ke rumah sakit, cari feses untuk pemeriksaan di kampus. dan ketemu sama koass yang mengospek kami dengan keji. kalau diingat jadi kesal. Koass ini matanya biru banget seperti kucing yang suka tidur di mushalla kampus dan suka berpenampilan seperti orang pergi ke pantai. Aduh,kok gak ditegur ya sama dokter2 senior?

2.senang banget karena ketemu sama kawan-kawan baru di rumah sakit, sehari seblumnya. Wah, jadi kebalik ya urutannya. Sama kak Inur, Kak rahmi, jg Eva. sayang gak sempat tukaran nomor hape. padahal di rumah sakit gak sampai tiga jam, tapi udah ketemu 3 kawan baru. Subhanallah...

3. dapetin blognya koass mata biru. memang sengaja cari sih, tapi gak tahu bahwa yang kucari itu adalah nama si mata biru. kebetulan aku gabung di milis, dan ada orang yang komentar postinganku. pas aku iseng cari nama orang itu di google, eh...si mata biru! Masya Allah...dunia memang ajaib

4. Pergi Outbond. hore...hore! udah lama banget enggak. padahal aku lagi flu berat dan batuk. tapi tetap semangat. ketemu teman baru selusin, dapat pengalaman luar biasa, dan pulang dengan baju full lumpur dan udah sempat nyicipin rasanya lumpur di Aceh. Outbondnya seru banget! di daerah blang bintang. Penuh bukit dan genangan air. Dan meski di tengah hujan, seluruh peserta termasuk ade, tetap semangat.

5. Sakit tambah parah pas pulang dari outbond. Mana baju pada kotor semua dan harus nyuci sendiri. Tambah lagi dada sakit. Sampai orang serumah pada panik. Dipikir udah jadi pneumonia. Alhamdulillah enggak. Dan alhamdulillahnya, meski sakit, aku masih kuat kuliah dan jadi panitia konsumsi di hari peringatan HIV/AIDS sedunia di tengah hujan.tapi sakitnya tambah parah juga nih. Moga terus kuat.

6.mendapat banyak nasihat dan hikmah berharga dari kak Mia dan bang Yudi. hikmah dari kak mia lihat http://tengkumia.multiply.com/journal/item/143/Cinta_Dalam_Diam . tulisan tentang cinta yang meski pendek tapi sangat indah jika diresapi.hikmah dari bang yudinya, silakan dibaca di bawah:

yuri_randa: masalahnya ada target masa depan..
yuri_randa: abang dah bikin beberapa plan..
yuri_randa: dan semuanya kudu dikejar..
mujahidah_aqsa: plannya mencakup apa aja bang?
mujahidah_aqsa: *siap2 nyatat:D
mujahidah_aqsa: buat pembelajaran yang masih junior
yuri_randa: short term or long term?
mujahidah_aqsa: dua2nya boleh
yuri_randa: short term itu abang rencananya selesai kuliah kerja dan nikah..
yuri_randa: ini kita pendekin aja ya..:D
yuri_randa: long term abang pengen punya warung, or resto 
yuri_randa: klo dah jalan akan bikin sekolah untuk anak sd dan smp..
yuri_randa: udah..:D
mujahidah_aqsa: gitu ya?
mujahidah_aqsa: kalau ke depan lagi bang>
mujahidah_aqsa: misalnya 30 tahun lagi?
mujahidah_aqsa: atau kapan meninggal?
mujahidah_aqsa: itu perlu dibuat enggak?
yuri_randa: emangnya dalam ilmu kedokteran dah ketemu prediksi kematian?
yuri_randa: ;))
mujahidah_aqsa: sampai kapanpun gak akan bang
yuri_randa: klo untuk 30 tahun itu penting de..
mujahidah_aqsa: yang ada cuma prognosis, ramalan untuk kehidupan beberapan tahun ke depan
mujahidah_aqsa: jadi untuk 30 tahun, 40 tahun kemudian, gimana cara buatnya?
mujahidah_aqsa: sistematikanya?
yuri_randa: ada beberapa cara..
yuri_randa: ada yang membaginya per 6 tahun..
yuri_randa: ada yang 5 tahun..
yuri_randa: jadi semuanya itu terarah dan tertarget,,
yuri_randa: satu hal yang nggak boleh ketinggalan adalah back up plan..
mujahidah_aqsa: misalnya?
yuri_randa: dimulai lahir..
yuri_randa: umur satu sampai 6 tahun masuk dalam fase apa?
yuri_randa: 6 sampai 12 tahun fase apa dan apa saja yang dilakukan..
yuri_randa: 12-18 tahun sudah seberapa jauh kita mengejar cita2?
yuri_randa: 18-24 adalah masa2 pemantangan pembelajaran
yuri_randa: 24-30 kerja, dan menghasilkan output..sekaligus mengisi hal untuk selanjutnya..
yuri_randa: 30-36 masa -masa penentuan untuk pensiun..
yuri_randa: or apalah..
yuri_randa: dan begitu seterusnya..
yuri_randa: abang ini target umur 45 tahun dah nggak kerja lagi melainkan duduk2 aja tapi ada uang..
yuri_randa: dan itu butuh plan yang cukup gede..
yuri_randa: klo nggak nyampe berarti kita kudu berdamai dengan ego 
mujahidah_aqsa: kalau gak satupun tercapai gimana?
mujahidah_aqsa: eh, apaan nih di buzz lagi?
mujahidah_aqsa: ngajak berantem?X-(
mujahidah_aqsa: o ya, berarti cut bang ini udah saatnya menghasilkan output ya:D
yuri_randa: insya allah sebentar lagi..
yuri_randa: dan pas dengan target..
yuri_randa: padahal ini adalah plan b yang sedang abang jalanin..
yuri_randa: :d
yuri_randa: plan A abang dah lewat ama jameun 
yuri_randa: bukan berarti kalian tidak melihat peluang kan?
yuri_randa: sekarang ini..
yuri_randa: orang yang berhasil dimasa akan datang adalah orang yang bisa meklafikasi tujuannya dengan se spesifik mungkin..
mujahidah_aqsa: jadi semakin spesifik semakin baik ya?
yuri_randa: yups..
mujahidah_aqsa: kalau misalnya nih, syahid di usia 30, itu spesifik gak bang?
yuri_randa: bukannya dalam hukum law of atraction juga demikian.
yuri_randa: dalam quantum ikhlas juga demikian..
yuri_randa: bisa..
yuri_randa: syahid seperti apa?
mujahidah_aqsa: dirudal israel
yuri_randa: masih ingat gimana Umar bin khatab meninggal?
mujahidah_aqsa: masih, ditusuk oleh seorang budak nasrani, abu lu'luah
yuri_randa: kenapa nggak..
yuri_randa: apa yang umar pinta saat itu sebelum ia meninggal?
mujahidah_aqsa: meninggal dalam keadaan sujud ya?
yuri_randa: nggak ah..
mujahidah_aqsa: itu cerita yang lain ya
yuri_randa: umar itu minta dia meninggal syahid di tanah madinah yang mana pada saat itu semua sahabat menganggapnya tidak mungkin..


NB: publikasi hasil CM ini sudah mendapat persetujuan dari pihak2 yang bersangkutan ya...:)

mujahidah_aqsa=ade atau saya sendiri                                                     yudi_randa=ya bang yudi, si pedagang monyet yang kemarin:D

7. mendengarkan hal2 yang mendatangkan doa panjang untuk seorang saudari, di bumi manapun dia berada. Ukhti, semoga Allah selalu bersamamu...

Nah, ada tujuh keajaiban perasaan.dengan tujuh ekspresi.Dan ada sejuta hikmah di dalamnya. 

karena hidup bukan hanya untuk diratapi kesedihannya

Ditangisi kemalangannya

Tapi untuk dijalani

Dan disyukuri

Tiap detik dan derik nafas yang terjadi

Sebab Tuhan tahu tentang pekerjaanNya

Dan kita, hanya menunggu keputusanNya

Sambil tetap bekerja dan menyimpan segenggam asa

di pelukanNya

Jumat, 28 November 2008

Akan Pergi bersama Hujan

Hujan, rasa apakah yang larut dalam tiap nadanya?

Keindahan... 

Sedikit sunyi, mungkin juga hening, tapi satu kata mewakili segalanya

Bening...

Adakah rasa besinya darah

Dan asinnya air laut yang menghitam di ujung kota, saat bening menerpa?

Juga suara senapan yang mengiringi tidur anak-anak di masa silam, mungkin di masa depan belum sirna

Saat-saat indah itu mengatakan bahwa Tuhan belum tidur di bumi Aceh

Juga dimanapun ada udara bergerak

Di langit, di bumi, tak terbatas

Aku tahu bahwa Ia mendengar semua jeritan dan cabikan luka

Dan Ia, akan selalu hidup dalam tiap hujan yang berlalu

*Puisi ini dibuat untuk mengenang (hampir) 4 tahun tsunami, dan 3 tahun perjanjian damai.

Aceh telah (hampir) damai, moga untuk selamanya. 

Rabu, 26 November 2008

Mengapa Tidak Memilihku?

Manakah yang lebih bertahan antara cinta dan persahabatan?

Lebih abadi, dan lebih tulus?

Laki-laki itu datang dari jauh, lalu merebut sahabatku.

"Ia mencintaiku, kami berjanji untuk menikah."

Ya, aku melihat cahaya cinta itu. Satu kerjab, lalu ia semakin tidak tergapai. Semakin hari, semakin jauh.

apakah ia akan kembali untuk berbagi jika cinta itu menyakitinya?

Sungguh, aku tidak tahu. Hanya satu kalimatnya masih tersimpan dalam memori paling istimewa di hatiku.

"Maafkan aku sahabat, karena aku tidak bisa jadi seperti yang kau harapkan..."

Tidak perlu jadi seperti yang kuharapkan, cukup jadilah dirimu sendiri. 

Hanya kuharap, ia akan kembali pada persahabatan ini, pada saat cinta itu menyakitinya. Meski aku tidak berharap luka menyapa sahabatku itu.

Lalu ia menatapku, matanya gemintang.

"Kita sahabat, selamanya!"

Moga bukan hanya satu puisi.

Sahabat, karena aku mencintaimu. Maka kembalilah...

Jumat, 21 November 2008

Bahagia tanpa Menikah

Cantik, sebuah pujian yang terdengar indah di telinga makhluk bernama perempuan.

"Kamu cantik sekali hari ini..."

Dan hati seorang perempuan pun melambung.

Lantas, apakah seorang perempuan hanya dapat dikatakan cantik.

Bagaimana dengan pintar, shalihah, sopan?

"Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi2, nanti susah jodoh."

Aah...apakah hidup seorang perempuan hanya untuk mencari jodoh!

"De, kalo aku jadi cewek pinter pasti banyak yang suka ya!" (katanya bercanda)

Duuh...emang jadi pinter itu hanya untuk dapat cowok keren?

Perempuan, wanita, cewek, akhwat, apapun sebutannya, tidakkah mereka adalah makhluk mulia yang telah Allah ciptakan?

ada keindahannya yang menjadi ujian. Tapi apakah seorang perempuan itu hanya berharga dari penampilannya? Tidakkah ia juga berhak untuk mengembangkan kemampuan dan pemikirannya?

"Gak takut jadi perawan tua?" Itu pertanyaan yang sering terlontar ke seorang perempuan. Tapi jarang kan ada pertanyaan serupa ditujukan ke kaum laki2?

Allah...

tanpa bermaksud memojokkan satu jenis yang manapun dari ciptaan Allah, kadang kala hati ini perih saat melihat perempuan2 shalihah dengan segenap kelebihan yang Allah berikan pada mereka,belum juga mendapat jodoh hingga senja, masih harus menanggung label 'perawan tua' yang dilekatkan oleh masyarakat.

Tidakkah mereka berhak bahagia dengan kesendirian mereka? TAnpa diganggu dan dihakimi dengan label "tidak laku"

Sebab hidup seorang perempuan tidaklah sekedar untuk menikah. Sebagaimana laki2, ia tetap punya kewajiban untuk mengaktualisasikan kemampuannya demi kemashalatan umat, menikah maupun tidak.

Hidup seorang perempuan bukan sekedar untuk menikah. Sebab pernikahan hanyalah sebuah proses, bukan tujuan akhir.

Dan siapapun dia, perempuan maupun laki-laki, menikah tidak menikah, berhak bahagia..

Rabu, 12 November 2008

Cercalah agar Aku kuat

Kenapa harus selalu peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang dirimu?

***

Aku bukanlah orang yang kuat. Dan aku sadar benar akan kelemahanku ini.

Karena aku selalu terlindungi oleh cangkang halus yang melingkupiku.

Dari orang tua, kakakku satu2nya, dan orang-orang lain di sekitarku.

Saat aku terancam oleh sesuatu, pelindungku ini akan bergerak. Seolah tak ada satupun di dunia ini yang bisa menyakitiku. Meski sebenarnya bisa jika Allah berkehendak.

Mungkin karena terlalu dilindungi, maka aku menjadi orang yang lemah. Aku tidak siap dengan serangan dalam bentuk apapun. Sehingga dalam kehidupan aku lebih banyak diam. Cari aman.

Hal ini juga yang membuatku memilih dunia kepenulisan. Dalam benakku, menjadi penulis memisahkan aku dari banyak orang hingga aku akan selalu aman. Aman dari cacian,serangan, dan hal-hal yang menakutkan hati.

Tapi apa yang dapat kukatakan saat kenyataan menjadi berbeda?

suatu tulisanku yang dimuat di harian lokal, menjadi sasaran caci maki dari banyak pihak. lengkapnya bisa dilihat di sini.

Rata-rata orang yang membaca tulisan itu menghujatku. Mengataiku sebagai orang picik, manusia dangkal, orang yang ngasal cuap-cuap, dsb. Benar2 mengagetkan. Tanganku langsung panas dingin, dan sejak itu...

aku memilih diam.

Diam itu nyaman,sangat nyaman malah. 

Tapi aku tidak bisa diam untuk selamanya. Tidak. Terutama saat aku mendengar kata2 Hellen Keller di telingaku, "I'm one. and i'm still one. I can do something, but i can't do everything. So i won't refuse something that i can do."

Dan seseorang menyebutku orang yang picik saat aku mulai bicara lagi.

Biarlah, setelah kupikirkan. Banyak orang yang mengalami hal yang sama. Saat kubuka situs Seno Gumira Adjidarma, kulihat banyak orang yang mencercanya dengan sangat kasar juga.

Lalu kurenungkan.

Ah manusia! Tak ada habisnya untuk dimengerti.

Sebagaimana kisah ayah-anak yang membawa keledai, aku tidak harus memanggul keledaiku untuk memenuhi keinginan orang-orang kan? biar saja mereka dengan opininya!

Senin, 10 November 2008

Terlalu mencintai, sehingga bersalah?

Telalu mencintai, hingga jadi bersalah? 

Ehmm...banyak kisah cinta di sekitar kita. Sebagian besar beraroma sufistik, penghambaan pada Illahi Rabbi. Yang jika diamati terlihat bercahaya, dan jika didekati memberikan wangian kasturi, wangian surga.

Ada juga kisah cinta yang indifferent, acuh tak acuh. Tapi cinta itu ada. Bersemi indah, tapi dalam rasa malu yang sangat. Dan ketakutan yang amat akan kehilangan cinta. Maka cinta itu hanya menjadi suatu kisah yang singkat.

Ada cinta yang menyakiti, cintanya manusia pengidap sadisme, cintanya orang masochist*, cinta yang obsesif, cinta yang posesif...semua bentuk dari cinta itu tidaklah selalu berbentuk jantung, seperti yang banyak disebutkan manusia dari jaman baheula, "I love you with all my heart." yang latah diartikan oleh orang Indonesia dengan "Aku mencintaimu sepenuh hatiku." Padahal heart ini jantung, bukan hati. TAPi biarlah kesalahan berbahasa ini tak udah terlalu saya ungkit

dan satu kisah yang memilukan datang dari memori masa lampau.

***

"De, aku mau mati aja."

aku terdiam,"Becanda ya Ndin?" *Note: bukan nama asli.

"Enggak ade, kemarin aku baru menelan obat penenang, 15 butir."

Kutatap matanya. Ada mata gadis yang menderita dalam cinta. Ada seseorang yang terlalu mencintai, hingga ia bahkan tega menyakiti dirinya, karena cinta yang tersia-sia."

"Alhamdulillah Allah masih memberiku kehidupan. Tapi..." Sinar wajahnya meredup,"Aku gak bisa melupakannya."

Dialog panjang kami masih berlangsung. SEmua khas hati yang patah. Ada tangis, kesenduan, kebimbangan, kehilangan arah.

"Ade, aku kapok pacaran. Ini untuk yang terakhir kalinya, titik!"

aku menatap matanya dalam-dalam. sambil menyimpan sebaris doa dalam hatiku untuknya.

Lalu, apa yang harus kukatakan saat perjumpaan terakhir kami yang entah, justru memberiku kabar tentang ia dan pacar barunya?

"Yang terakhir. Aku akan nikah sama dia." katanya mantap. Lagi-lagi aku menyimpan satu do'a.

Pernikahan itu tidak pernah terjadi.

Hingga saat ini, sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Aku bahkan tidak tahu, di bumi manakah ia sudah berada. Entah kenapa, tiba-tiba aku mengingatnya. Dan lagi-lagi, aku masih menyimpan doa untuknya. Tidak hanya satu, tapi beberapa.

Cinta apakah yang dimilikinya?

Entahlah, aku hanya berharap, ia tidak akan pernah kehilangan cinta sejati yang semestinya bisa dimilikinya. Hingga saat itu tiba, biarlah aku tetap menuliskan tentang cinta itu dan menyimpan banyak doa untuk Andin, dan sejuta sahabat2 ku, dimanapun mereka berada.

Agar cinta, tetap menyentuh mereka dalam kebahagiaan yang hakiki.

Endless...

Selamanya...

Sabtu, 08 November 2008

Catatan singkat dari Hati

Aku adalah ***singkat

Bukan siapa-siapa

Layaknya sebuah irama

Satu...

Dua...

Tiga...

Hingga aku mendengar

Tuhan mengetahuiku dari malaikatNya

Sebab aku tidak sepenting itu di mataNya

Tapi aku ingin mengenalNya, tanpa perantaraan malaikatNya

Sebab aku ingin Dia

Sangat menginginkanNya

Meski tanganku tinggal sepotong

Aku akan tetap menginginkanNya...

*Diary Sunyi dari seorang hamba yang tidak pernah mengenal dirinya...

Sabtu, 01 November 2008

Pernikahan yang Awalnya Tak Indah

Saat saya sedang beres-beres di sebuah ruangan, saya menemukan sebuah undangan emas. Di dalamnya jelas tertulis: Menikah Ikhwan X dan Akhwat Y.

aah... sebenarnya undangan itu hanyalah undangan yang biasa saja. Sama dengan undangan2 lain yang sering mampir ke rumah. Meski undangan itu lebih mewah, indah dengna warna coklat keemasan yang tampak istimewa, tapi itu tetap sebuah undangan yang biasa.

Yang tidak biasa adalah hati saya saat melihat undangan itu.

Ups, kenapa ada yang berdehem? Bukan maksud saya cemburu karena Ikhwan itu sudah menemukan tambatan hatinya. Bukan! Bukan juga saya keberatan dengan pernikahan mereka. Hanya yang membuat saya sedih adalah kisah yang melatarbelakangi pernikahan itu. Yang dari info2 tertentu, sampai ke telinga saya. Meski saya tidak bermaksud bergosip tapi kisah itu sampai juga. Wajar saya pikir, karena si ikhwan memang termaksud Superstar di kampus kami. jadi berita apapun tentang seorang superstar pasti banyak menjadi perbincangan.

ehem! sebelum saya mulai bercerita, saya ingatkan bahwa blog saya ini bukan sitenya Insert, Kabar-Kabari, Cek dan Ricek ataupun infotainment sejenisnya. Jadi kalau ada yang mengetahui kisah ini tentang apa, siapa, tolong jangan ribut2 ! Oke! Ini bukan dimaksudkan untuk gosip. Sekedar berbagi hikmah. Semoga Allah mengampuni saya, jika saya salah menceritakan ini disini.

Amin...

Dia menikah?

"Menikah?"

"Ya," sahut kakak itu. Wajahnya biasa saja. Tapi saya tahu, ada pilu yang tersimpan (waah, kalo kakak baca ini, jangan marah ya. identitas kakak aman kok!).

"Dengan siapa?" saya bertanya hati-hati. Seharusnya tiap pernikahan menjadi suatu kabar gembira, bukannya dibicarakan dengan kesenduan seperti ini. Pikir saya waktu itu.

"Dengan adik kelasnya, Akhwat Y (nama disamarkan untuk keamanan. hehe...)"

"Akhwat Y?" saya berpikir keras. mencoba membongkar memori tentang seorang kakak kelas yang bernama Akhwat Y. Bukan apa2, pamor sang ikhwan ini sangat terkenal di kampus. Dia pernah menduduki jabatan strategis di kampus, aktivis dakwah, pintar, tawadhu', dll yang bagus2 (yang tahu siapa tolong jangan ribut-ribut! hehe...) jadi wajar kalau seharusnya pendampingnya itu sekualitas Ikhwan X ini.

"Akhwat ya?" Tanya saya hati-hati (perhatian! Ikhwan dan akhwat yang saya gunakan disini kembali kepada kelaziman yang umum dipahami, yaitu ditujukan untuk aktivis dakwah, dan bukan pada segi kebahasaannya). Kali ini lebih hati2, karena rona sendu di wajah si kakak semakin bertambah.

"Bukan."jawabnya lagi."Kakak itu biasa aja, bahkan dulunya suka pake jins ke kampus. sekarang aja udah agak berubah.Tipe anak gaul."

"Ooh..." jawab saya singkat aja. habis bingung mau tanggapin apa. Takut2 malah berghibah.

"Entah kenapa..." Lanjut si kakak dengan mata agak menerawang. Selanjutnya kami terdiam, agak sungkan melanjutkannya. Kami berdua bukan tipe orang yang suka bergosip, tapi berita tentang si ikhwan ini menjadikan kami ingin tahu. Karena...

Entahlah.

Tapi saya tahu ada sesuatu di mata si kakak, yang membuat saya tidak berani menghentikannya untuk membicarakan Ikhwan X ini. Seperti kabut yang tidak saya pahami.

"Calon istrinya ini orang kaya. Ke kampus naik mobil." Lagi2 hening.

Saya mengerti maksud si kakak. Ikhwan X ini terlalu sederhana. Amat sangat sederhana. Dengan statusnya sebagai anak yatim dan tanggungan adik2nya yang banyak, tentu kehidupannya setamat koass nanti akan semakin sulit. Semua mengerti kemana arah pembicaraan ini. Hanya saya tidak ingin percaya, dan tetap ingin bersu'udzhan pada si ikhwan.

"Gak mungkin dia seperti itu kak."

"kenapa gak mungkin dek?" tanya si kakak balik, seolah menantang.

"karena ade percaya, si ikhwan terlalu baik untuk jadi seperti itu."

Si kakak mengangguk. Lalu kali ini kami benar2 menutup mulut tentang Ikhwan X ini.

Menikah Karena Uang???

Benar saja, berita tentang pernikahan si ikhwan ini menyebar di kampus dengan cepat. Dan meski semua orang menutup mulutnya rapat2, tapi tak urung kabar tak sedap meruak juga. 

Semua bertanya-tanya, bagaimana mungkin si ikhwan X ini bisa menikah dengan Akhwat Y? sangat tidak sepadan!

Saat itu, saya sama sekali tidak ingin berkomentar. Karena pikiran saya yang picik, saya berpikir sederhana saja: Cinta itu bukan sesuat yang bisa diperhitungkan atau disepadan2kan. Dan jodoh di tangan Allah.

Suatu hari, cerita itu sampai juga.

"Dia dijodohkan."

Saya hanya mengangguk. Pernikahan karena perjodohan di Aceh adalah sesuatu yang sangat biasa, apalagi di daerah asal si ikhwan, kampung X. Dimana setiap orang dari sana diharapkan menikah dengan orang sekampung (yang tahu nama daerahnya dilarang ribut2! ). Saya tidak pernah berpikir ke arah sana, hingga tanpa sadar saya bertanya,

"Kenapa?" Kenapa si ikhwan mau? Itu sambungannya.

Kakak itu menatap saya. Kakak yang sama, tempat pertama kalinya saya mendengar kabar pernikahan si ikhwan. Lalu meluncurlah cerita. Tentang peran keluarga besar dari kedua belah pihak, lalu janji untuk ditanggung biaya melanjutkan spesialis, hadiah mobil dari calon mertua, dan hal2 lain yang terlalu menyedihkan untuk diterangkan lebih jauh.

ah, saya tidak mengerti. Apalagi kisah selanjutnya adalah tentang seorang akhwat yang hatinya terluka karena ditinggalkan oleh Ikhwan X setelah berjanji untuk menikah.

Saya tahu bahwa janji2 seperti itu tidak memiliki kekuatan syariat apa2. bahkan terkadang hanya menjadi jebakan syaitan untuk menjebak manusia hingga melanggar syariat. dan ujungnya adalah hati-hati yang patah.

"Sudah lama, dia menjalin hubungan dengan akhwat itu. Hanya via SMS."

Tapi dua tahun! 

Aahh...saya tidak mengetahui nama akhwat itu, dan saya tidak berniat mencari tahu. Tapi saya tahu, ada hati yang patah dalam cerita ini. Dan mungkin bukan hanya satu hati.

Lalu kami terdiam. Besok adalah hari akad nikah Ikhwan x dan Akhwat y. Kami tidak ingin berkomentar, ataupun menyebarkan kisah ini kemana-mana.

"Memang, jodoh tidak ada seorang pun yang tahu."

saya mengangguk, saya tahu itu.

"Dan manusia, juga cepat berubah."

kali ini saya tidak mengangguk, "Belum tentu."

Dan sekali lagi, untuk mengobati rasa bersalah saya karena telah mengghibah si ikhwan (saya tidak tahu ridhakah dia atas omongan kami ini, semoga Allah mengampuni kami)

"Dia punya alasan. Dan ade tidak percaya dia seperti itu!"

Lagi-lagi kami terdiam.

"Ya, mungkin benar. lagipula, seandainya kita ada di posisi dia, apa lagi hal terbaik yang akan kita lakukan?"

Kami kembali terdiam. Pikiran saya melayang. Saya tidak terlalu mengenal si ikhwan. Tapi kisah2 banyak orang tentang ia menjadikan saya seolah mengenalnya. Kisah2 yang selalu mampir, bahkan saya tidak perlu bertanya (bukan saya sengaja mencari info ya). Bukti bahwa si ikhwan mendapat tempat khusus di hati banyak orang.

Ia orang yang sangat sederhana

Bersahaja.

Tiap hari, dengan motor butut, ia menjemput adik2nya di sekolah.

Berprestasi di kampus.

Rendah hati.

Pernah menduduki jabatan penting di BEM dan lembaga dakwah kampus.

Dan sang Akhwat X? Entahlah, saya tidak banyak mendengar kisah tentangnya. Sosoknya bukanlah sentral dari banyak pembicaraan.

Apa yang ada di hatinya jika mendengar orang membicarakannya?

Entahlah, mungkin satu lagi luka.

Luka, lagi lagi luka. Padahal seharusnya sebuah pernikahan itu berawal dengan kebahagiaan.

Saya tidak pernah mengenal ikhwan X dan akhwat Y ini, tapi hari itu saya ingin berdoa

"Ya Allah, hamba tidak mengenal mereka, tapi berkahilah pernikahan mereka... Barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fi khairi."

Lalu saya menatap si kakak yang masih berada di samping saya. Dari wajahnya, saya tahu ia memikirkan hal yang sama dengan saya. Ia telah ikhlas...

Saya berharap semua orang yang tidak ikhlas dengan pernikahan mereka, kini menanamkan keikhlasan dalam hati2 mereka.

Amiin...

Setelah itu kami sama sekali berhenti membicarakannya. Semoga untuk selamanya

PS: Cerita ini sama sekali bukan saya maksudkan untuk bergosip atau untuk mendiskreditkan salah satu pihak, saya hanya ingin berbagi hikmah. Hikmah yang saya dapatkan dari kisah ini, semoga dapat ditangkap oleh semua yang membacanya. Untuk itulah saya menuliskannyanya. So, yang tahu apapun info tentang hal2 yang dirahasiakan dalam kisah ini, jangan ribut-ribut ya! Syukran...

Selasa, 28 Oktober 2008

Sombongnya Manusia2 Medis-part2

Fragmen 2:

DI ruang tunggu sebuah UGD, seorang anak laki2 yang tampak sesak memegang dadanya, nafasnya terlihat tersenggal2. Ibunya yang hanya memakai daster berdiri di sebelahnya, tampak agak panik.

Saat itulah, seorang dokter spesialis lewat dengan langkah tergesa. Dalam kepanikannya, ibu tadi langsung mencegat langkah sang dokter.

"Dokter, tolong anak saya."
Dokter separuh baya itu terlihat kesal. Dalam hitungan detik ia langsung mendamprat ibu tadi dengan kata2 kasar. Intinya agar bersabar untuk menunggu karena pasien sedang banyak2nya. Dan ia tidak pantas mengganggu seorang dokter yang sedang sibuk.

Ibu tadi hanya dapat terpaku. Kepanikan bercampur kesedihan karena dampratan terbayang jelas di wajahnya. Sedang si anak di sudut masih terus tersegal2.

Fragmen 3:

Di sebuah rumah sakit yang baru saja di bangun di kota X, seorang dokter spesialis saraf baru saja selesai memeriksa pasiennya. Istri pasien itu berdiri di samping suaminya, mencoba sabar menunggu hingga sang dokter selesai dan hendak keluar.

"Maaf dok, suami saya sakit apa?"
Dokter itu hanya melirik sekilas pada sang istri yang berpakaian sederhana itu. Lalu berucap sampai terus melangkah,

"Saya jelasin juga ibu gak akan ngerti!" Lalu ia menutup pintu ruangan kelas 2 itu dengan agak keras, meninggalkan sang istri tanpa kata permisi.

Senin, 27 Oktober 2008

Sombongnya Manusia2 Medis

Alhamdulillah...
setelah sekian lama vakum dari nge blog, akhirnya hari ini aku bisa kembali

Kembali berbagi, semuanya...
Dan untuk hari ini, ada sebuah cerita tentang manusia
dengan sebuah profesi
yang membuatnya seolah-olah dapat menguasai nyawa manusia:

Dokter
dan para petugas medis di sekitarnya

Fragmen 1:

"Langsung aja naik ke tempat tidur!"
Kami tercekat melihatnya. Bapak itu, pasien yang baru saja diperintah oleh si petugas juga kelihatan bingung. Ia hanya menatap mesin yang berbentuk seperti tempat tidur itu dengan tak yakin.

"Gimana naiknya?" ia bertanya lemah, tapi sang petugas tidak memperdulikannya. ia sibuk dengan sejumlah catatan. Kami, para mahasiswa FK yang diberi tugas untuk mengunjungi bagian radiologi hanya dapat tertegun.

"Kenapa? naik pak." sahut petugas itu dengan tajam. Kali ini bapak itu naik dengan taku2, mungkin juga bingung. dengan tak sabar, petugas itu mengarahkan posisi bapak yang sakit itu.

Lagi2, kami hanya terdiam

...Bersambung^^

Kamis, 16 Oktober 2008

Adikku di Balik Dinding-Dinding Kaca

Apa yang ada dalam pikiran setiap orang saat mendengar istilah dinding-dinding kaca?

Seolah ada sebuah penyekat antara sesosok manusia dengan dunia luar. Dunia luar begitu dekat, tapi tak tersentuh.

Seorang penulis mengibaratkan dunia anak-anak autis dengan istilah 'dunia yang dibatasi dinding-dinding kaca'. Mereka (anak2 autis tersebut) begitu dekat, bahkan seolah satu bagian. Tapi tak tersentuh.

Begitu juga dengan adikku, Iqbal Ibrahim. Tahun ini di bulan Juni ia genap berusia 17 tahun.
Tapi ia tidak bersekolah, tidak pernah punya ijazah, dan tidak bisa membaca.

Ini semua karena dinding-dinding kaca yang telah menyekatnya bertahun2. Meski sekarang telah terbuka sedikit2 dengan cinta dari orang2 sekelilingnya, banyak luminal (obat anti epilepsi), dan hal2 yang didapatnya setiap hari, tapi aku terkadang merasa bahwa dinding kaca itu masih dapat muncul. Lalu menyekatnya dan ia tidak dapat digapai oleh seorang pun.

Saat masih kecil. dinding2 kaca itu begitu rapat mengukungnya. Ia terus berceloteh di dunianya sendiri, melakukan hal2 aneh yang tidak dapat dipahami oleh seorangpun (seperti bertepuk tangan sendiri tanpa sebab ataupun marah2 pada orang yang tak kelihatan). Meski cinta ibuku tidak pernah luntur, tapi dinding2 kaca itu ada disana.
Hanya sayang, tidak ada seorangpun yang menyadarinya ataupun melihatnya. hingga semua terlambat untuk ditangani. Bahkan kami sekeluarga baru mengetahui bahwa ia autis saat ia telah berusia 14 tahun. Saat ia dikeluarkan dari SLB karena dianggap siswa yang aneh dan tidak dapat diam, kami belum mengetahui penyakitnya secara pasti. Dokter yang kami temui hanya menyebut istilah hiperaktif.

Hingga tsunami, kemampuan motoriknya semakin membaik. Ia bisa bicara dengan orang lain, bisa menggambar, meski dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti, juga mengerti emosi orang lain. Dinding itu pelan2 mulai runtuh.

Lalu psikiater dari Jerman itu datang ke Aceh. Dan saat melihatnya, ia langsung berkata, "Dia Autis."
istilah itu terdengar absurd bagi kami. Lalu psikiater itu mengambil kertas, dan menyuruhnya menggambar. Iqbal menggambar, meski ia tidak mengerti.

"Ya, dia autis." sahut psikiter itu lagi."tapi kondisinya telah jauh membaik."
Dan kata2 itu telah cukup bagi kami semua.

Sekarang, hingga tanggal 15 Oktober 2008 ini, kemajuannya semakin pesat.
Ia menjadi semakin peduli terhadap sesama, bahkan saat aku sakit demam panas tinggi, ia akan mengatakan dengan tampang serius yang membuat kami tak dapat menahan senyum, "Jok luminal (aceh:kasih luminal)." sekilas kata yang biasa, tapi perhatiannya pada kami, menunjukkan bahwa ia telah berhasil memecahkan dinding kacanya.

Ia semakin cerdas. kemampuan motoriknya bagus, bahkan terkadang luar biasa. Ia mampu memahami cara memasang instrument rumit hingga tersambung dalam satu sistem. Seperti menghubungkan CPU dengan monitor, speaker, dll. Ia juga dapat berhitung, mengimprovisasikan segala sesuatu dengan keluguannya yang terasa murni.

Ada saat2 dimana aku merasa ia adalah orang yang paling kucintai di dunia ini.
Saat aku pulang, ia akan menyambutku dengan senyum lebarnya yang menunjukkan bahwa aku adalah orang yang paling berharga di dunia. Dengan ucapan keras penuh gembira, "eh, kak piya sayang sudah pulang."
Sungguh, aku merasa sangat berarti.
Saat aku sakit, ia akan membuatkanku susu
Saat hariku buruk karena dimarahi dosen di kampus, ia akan menghiburku dengan ucapan2 spontannya yang begitu alami, hingga segaris pelangi akan muncul di wajah siapapun yang mendengarnya.

Meski terkadang dinding kaca itu muncul dan ia kembali sibuk dengan dunianya
aku tahu bahwa kami akan bisa menariknya kembali
selalu bisa menariknya kembali kesini

Ia begitu berharga, begitu luar biasa.
karena ia autis, bukan berarti ia bukan manusia luar biasa.
Setiap manusia punya cahayanya sendiri.
Dan Iqbal, bagiku adalah cahaya rumah kami.
Tidak ada alasan untuk malu akan kehadiran seorang adik yang autis. Bhkan ini adalah anugerah yang terindah.

*Tidak ada maksud untuk mengiba, apalagi membuat iri orang2 yang tidak punya adik autis hanya ingin berbagi, sebagai seorang kakak dari pengidap autisme. Semoga bermanfaat.

Selasa, 14 Oktober 2008

Thanks For Sharing (TFS)

Pernah merasa sedih?
Berbagilah...

Merasa kecewa?
Berbagilah...

Merasa Gundah?
berbagilah

Merasa senang?
Berbagilah...

Alhamdulillah...hampir setahun sudah aku nge MP, telah banyak luka, kesedihan, kegembiraan, dan senyum yang kubagi.
Ada juga gundah, sepi, bimbang, dan aneka nano-nano lainnya.
Berbagi, begitu indah.
Kadang ketika beban di pundak terasa begitu berat, berbagi membuatnya ringan
Ketika tawa telah begitu lepas hingga rahang terasa sakit, berbagi membuatnya seimbang.
Aku sangat bersyukur telah dapat membagi semua emosi dan bertemu dengan begitu banyak saudara-saudara di dunia maya ini.
Sebagian besar mungkin tidak akan pernah kutemui, kecuali Allah berkehendak lain.
Ada yang telah kutemui karena takdir, juga karena dijebak (oleh takdir dan oleh kawan2)

Hampir setahun, terhitung sejak 25 November 2007 aku mengenal Multiply
Dan aku bersyukur kepada Allah, karena telah dapat mengenal begitu banyak orang, menjelang usiaku yang sebentar lagi 19 tahun

Bersyukur, berterima kasih kepada saudara2ku yang telah banyak membagi dirinya denganku.
Terutama kepada:

* Ririn (dikau yang telah mengajariku MP, syukran ya rin. Juga karena semua yang telah dikau bagi. Bahkan keusilanmu)
* Mbak Nisa Mulya (8onetwo): syukran mbak, artikel2 dari mbak banyak banget manfaat untuk diriku dan bnyak orang
* Bang Yudi Randa (meski telah banyak dizhalimi, cut bang udah banyak berjasa dalam mnymbangkan banyak pemikiran2 n koment2. jadi untuk itu, masuk dalam tiga besar daftar terima kasih makasih ya bang beuh)
* Mbak De2w (aku memang baru kenal sama mbak, tapi banyak artikel2 mbak yang memberiku inspirasi. TFS)
* Mbak Dewi (makasih untuk banyak pelukannya)

Juga untuk mbak rakhma, kak eki, kak mala, dan banyak saudara2 lainnya yang tidak dapat ade tuliskan namanya karena banyaknya, terima kasih...
Untuk semua perhatian...
Semua harta karun yang telah dibagikan...
Dan semua cinta...

Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan semuanya...

Sabtu, 11 Oktober 2008

Mendapat segala sesuatu yang dibenci, Kenapa???

Kenpa Allah selalu memberiku segala yang tidak kuinginkan?
Serius nih,

Yang pertama kali dari yang tidak kuinginkan adalah satu tim dengan seorang teman yang menurutku dulu, super jengkelin.
Sok ngatur, centil, diktator (maaf ya fren...)
Rupanya, begitu aku satu tim dengan dia, baru terlihat semuanya
Ia begitu baik, penuh perhatian, dan gak pelit
Dan akhirnya aku jadi suka banget sama dia

Yang kedua, aku sebel dan takut banget sama seorang kakak kelas
di mata ku si kakak tuh galak, gak ramah, eksklusif (maaf ya kak, peace...)
Terakhir, kakak itu malah jadi murabbiku
Waak!
dan sekarang? i love u kak

yang ketiga, dulu aku paling benci menulis,
profesi suram menurutku (peace semua kawan2)
tapi suatu hari, seorang guru memberikan tugas bagi kami semua untuk mengikuti sebuah lomba menulis cerpen
yang gak ikut, nilai kimianya jadi C! (dari nilai tertinggi A)
ih... dulu aku mikir. gak nyambung banget nih guru. apa hubungan antara cerpen dan kimia coba?
Tapi kubuat juga, daripada nilai jelek?
Dan akhirnya, aku jatuh cinta!
Pada dunia menulis.
Dan cinta itu tetap ada sampai sekarang

Yang terakhir, kejadian yang membuatku sangat kagok
Cuma belum ketahuan hikmahnya apa
Gini, aku paling benci dengan istilah copy darat
kenapa?
hemm... alasannya ada dua:
prinsip dan sejarah masa lalu
Dari prinsip, bagiku ukhuwah dunia maya cukuplah dunia maya
karena terkadang saat ukhuwah itu menjadi nyata, ia malah cenderung mengendur
bahkan terputus sama sekali

Yang kedua, karena sejarah masa lalu
Yang tidak diketahui banyak orang, dulu aku sempat beberapa kali copy darat
ini rahasia banget, bahkan kawan yang paling dekat aja gak tahu
dan aku gak ngerti, kenapa semua ukhuwah itu jadi buyar saat menjelma dalam sillaturrahmi non maya?
Apa karena wajahku?
Banyak orang bilang wajahku itu seram lho.
kesannya formal dan gak bisa diajak bercanda
Oke, kuterima (meski air mata berderai nih)
tapi kenapa ada hak untuk mengurai jalinan ukhuwah gara2 keseraman?:(

Nah, udah ngerti kan kenapa aku benci banget dan selalu menolak saat diajak bertemu dengan aktivis dunia maya?
Karena aku tidak ingin kehilangan saudara2 ku (maaf ya semua saudara2 ku di dunia maya. kuharap kalian semua mengerti)

Nah,dalam satu kesempatan rupanya Allah punya kehendak lain
hari ini, di FLP, tanpa sengaja aku bertemu dengan salah seorang saudara dunia mayaku itu
Masya Allah!
Betul2 kaget, rasanya mau ngumpet
Tapi gak mungkin ya? udah terlanjur kelihatan sih.
Serius, aku gak nyangka banget bisa ketemu beliau di sana

Akhirnya aku ngumpet2 sepanjang waktu
Konyol banget kan? (maaf ya bang)
Padahal aku udah bertekad gak bakal ada lagi yang namanya copy darat dalam hidupku
tapi kenapaa???
Histeris deh:(
dan sekarang, sepertinya yang namanya ukhuwah dunia maya kami tinggal kenangan deh, seperti yang sudah-sudah.

Sekali lagi, kenapa Allah memberikan kepada kita segala sesuatu yang tidak kita inginkan?
adakah jawbnya?

Senin, 06 Oktober 2008

Manusia??? Aneh!

Terkadang, aku berpikir bahwa aku sudah berjumpa dengan semua tipe manusia

Yang aneh, yang konyol, yang suka ngebanyol
Yang suka nyelekit
Yang skeptis
Yang selalu bersemangat, bahkan saat hari terlihat begitu buruk
Yang suka Tepe (tebar pesona)
Yang apa adanya, bahkan saat gak punya duit, dia bisa bilang dengan tegas ke kawan2nya, "sorry gak bisa ikut makan2. Gak ada duit!"
Yang tomboi abis (cewek)
Yang feminin banget (cowok cewek)
Yang lembut
Yang lugu

Aku sudah bertemu dengan begitu banyak orang dalam hidupku hingga rasanya mustahil masih ada tipe manusia yang belum kutemui.
Sebagian dari tipe-tipe ini adalah sahabat-sahabatku
Sebagian lagi sahabat-sahabat yang dekat di hati, jauh di mata
Sebagian lagi bukan sahabat, saudara (seiman, setanah air...)
Sebagian lagi...alien! Alias asing banget! Walau dekat di mata tapi di hati terasa jauh.

Dan baru-baru ini aku berjumpa lagi dengan tipe-tipe baru,
Seorang panic girl. Wajahnya cantik banget (mirip tamara blezensky), tapi selalu panik
Seolah saat itu perang dunia kedua dan bom akan dijatuhkan sewaktu2.
Seolah tiap jam adalah deadline.
Gugupan banget, sampe ada temannya yang bilang, "Bisa nyante gak sih?'
Dan gugup plus paniknya makin bertambah tambah! Sampai semua orang disekitarnya habis disemprotnya dengan kemarahan.
Dan aku? cuma menonton sambil terpaku. Masih ada lagi ya, manusia seperti ini?

Subhanallah...

Saat itu aku merasa, pengetahuanku mengenai manusia tidak ada apa-apanya.
Masih begitu banyak misteri tentang manusia
Sangat banyak untuk diketahui...
Banyak...banyak!


Subhanallah... Subhanallah!

Manusia memang luar biasa!!!

Kamis, 25 September 2008

Muhasabah seorang (Calon) Mujahidah

Alhamdulillah... meski sempat pamit dari dunia MP, rupanya Allah masih memberikan kesempatan untuk hadir kembali di sini sebelum lewat Lebaran.

Di hari ke-26 ini, izinkan aku sedikit bermuhasabah.

Berapa banyak waktuku yang tersisa?

Entahlah, dulu saat aku masih anak-anak. Tak ada yang terpikirkan dan lugu. aku berpikir bahwa usiaku minimal adalah 70 tahun! Naif sekali kan? Memangnya situ yang ngatur umur? ah, entahlah. Sekarang? aku ingin usiaku sesingkat-singkatnya, tapi kaya manfaat.

Tapi aku ingat...
Banyak amanah yang masih belum kutunaikan
Banyak saudaraku yang luput dari sillaturrahim
Banyak sahabat yang telah kukecewakan dengan janji-janji yang tak kutepati
Ada orang tua yang kutinggalkan dengan alasan dakwah, jihad, rapat ini-rapat itu
Ada... Ah, banyak.. terlalu banyak untuk disebutkan.

Dengan cita-citaku dalam jihad, apa yang telah kupersiapkan?

Yang telah kupersiapkan? ah, bahkan hati ini tersentil saat aku dengan lancangnya masuk ke suatu room chat dengan nick name: mujahidah_aqsa (jauuh, masih jauuh...) dan seorang ikhwah bertanya: disana masih ada intifadhah gak? Dan aku gak tau jawabannya!

Ah, kapan terakhir kali aku membuka lembar maya untuk mencari kabar saudara-saudaraku di sana?
Seingatku, informasi terakhir yang kudapat hanya dari buku "Palestine:EGP!" selebihnya tidak ada!
Kapan terakhir aku mendo'akan mereka?
Sulit, sulit kuingat dalam waktu yang berlalu
Lalu apakah aku masih pantas menyebut diriku: mujahidah_aqsa? Maluuu...

Hafalan Al-Qur'anku masih jauh dari harapan
Tarbiyahku masih dangkal
Apa yang kupunyai jika saat ini aku dipanggil Allah?

Ah, di penghujung Ramadhan ini, aku berharap ampunan
Yang terbaik, darinya.

"Allahumma dhalamna anfusana wa illam taghfirlana latarhamna lanakunanna minal khasiriiin.."

Minggu, 21 September 2008

Selamat Duluan...

Assalamu'alaikum para MP-ers

Berhubung sebentar lagi lebaran, dan mungkin saya tidak akan online sampai dua hari sebelum lebaran, maka saya mau mengucapkan:




dan untuk sahabat-sahabat sesama pejuang kebenaran, saya ingin berkata:




Semoga Allah mempertemukan kita semua dalam keadaan yang lebih baik.
Amiin...

Senin, 15 September 2008

Kedzaliman Dakwah

Bingung mau nulis apa, soalnya lagi gundah banget. Jadi mau curhat aja ya sama Sang Pemilik segala gundah dan sedih. Kalau ada yang mau baca gak papa kok, kali aja bisa menginspirasi.

***

Ya Allah, galaunya hatiku
Mengapa jalan dakwah ini selalu dipenuhi dengan duri?
Padahal aku tahu itu, tapi diri ini tetap gamang.

"Ikhlas." nasehatnya
Tapi sulit menjaga keikhlasan ini, saat satu demi satu orang pergi dari jalan ini.
Pergi ke jalan mereka sendiri.

Mengapa hamba ditinggalkan, Allah?
Pusing, gamang

Apakah lantas atas nama pengabdian dan keikhlasan semata kedzaliman lantas dilegalkan?
Amanah tertinggal, sedang profesionalisme mati

"Afwan." Katanya lagi
Entah untuk ke berapa ratus kali.
Sekedar gula penawar jamu, pemanis bibir

"Insya Allah."sahutnya lagi
Untuk yang keberapa kali?
Tidakkah malaikat mencatat?

Romansa dakwah ini, sangat pahit
Amburadul
Hanya menerima, lalu lalai akan kesudahannya

Tidakkah segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kelak?
Dimana tempat berdirinya tubuh ini, Ya Rabb???

Saat semua amanah menuding
langitpun menyempit
hanya Engkau yang mendengar

Malangnya Jadi Perempuan















Sungguh malang jadi perempuan
Tiap hidupnya adalah sayatan luka
senyapan kepedihan

Sungguh malang jadi perempuan
Tak punya hak memilih
Hanya hak untuk dipilih

Sungguh malang jadi perempuan
Kesabaran adalah jalannya
Meski untuk itu harus mati

Malang
Perempuan malang

Kamis, 11 September 2008

Catatan dari Palestina: Emang Gue Pikirin!

Di tengah hari yang panas

Lagi jalan gak tentu arah di sepanjang jalur kendaraan bermotor depan BEM, tiba2 kami (aku dan sahabatku Putri) berpapasan dengan kakak2 senior di LDF Asy-Syifa'.

"Mau kemana dek?"

"Hemm.. pulang kak."

"Kenapa gak ke MPR aja?"

(Cat: MPR itu Multi Purpose Room. kalo di sini sih, itu adanya di Fakultas Pertanian ya, bukan Majelis Permusyawaratan blablabla.hehe:))

"Emang ada acara apa kak?"
"Bedah buku dek. Buku Palestina Emang Gue Pikirin. Langsung oleh pengarangnya lho dek."

Hemm... dengarnya jadi ragu2. Tahu sih tuh buku emang oke banget. Pengarangnya siapa namanya? O ya, Shofwan al-Banna.

Tapi pagi2 dengerin ceramah? Gak suntuk ya.Apalagi putri, my soulmate sempat-sempatnya bilang,"Paling cuma ceramah aja, bosen!"

Benar juga sih.
Siang-siang Ramadhan, enaknya tidur aja kali ya? Males dengar ceramah lagi.
Tapi kalau alasan gitu ke kak Acit and kak nurul, gak enak banget ya?
Nampak deh kalau kita masih mujahidah kagetan.
Mana tugas masih numpuk nih. Bahan tutorial belum dicari, undangan untuk LDF2 juga belum dibagi.

"Gratis lho dek!"

Hemm... makin goyah.
Finally, nyerah. Go!

Di tempat acara.

"Eh, duduknya dimana nih?"
"Wah, gak kebagian tempat duduk deh kita."
"Nyandar aja, santai."

Rupanya ulah kami yang berisik langsung memancing panitia. Kebetulan nih panitianya yang bernama kak Isil (yang juga senior di kampus), ngeliat kami udah pada jongkok. Langsung deh diusir2 ke depan.

"Ssst... duduk di depan dek."

UAaah... siap-siap ngantuk deh, ngedumelku dalam hati. mana pematerinya tampang ustadz banget lagi! Ya udah, kata-kata senior adalah hukum jadi mau gak mau pindah juga agak ke depan.

Gak berapa lama...

3
2
1

Duar!
Subhanallah...!

Sungguh, kami terpesona (bukan oleh wajah ustadz Shofwan al-Banna-nya lho). Di tengah kedangkalan pola pikir yang ditunjukkan banyak orang, diantaranya keapatisan sejuta umat dalam menanggapi masalah Palestina, kami melihat cahaya!

Saat ustadz itu dengan kebeningan kata-katanya berargumentasi tentang urgensi Palestina, saat ia menerangkan mengapa kita wajib berjihad di Palestina, saat itu, semangat muda kami terbakar! (Cieee...)

Yang ngebuat kami kagum tuh, terutama saat tuh ustadz ngejawab satu pertanyaan (penting untuk diketahui nih, pertanyaan ini selalu muncul saat wacana untuk jihad di Palestina berkembang).

Peserta: Ustadz, saya pernah mendengar bahwa Palestina itu memang sudah ditakdirkan ricuh hingga akhir zaman, jadi untuk apa lagi nih kita berjihad di sana? (redaksi yang sebenarnya beda, tapi pertanyaan ini telah melalui penyuntingan dari pemilik MP ini)

Mendengar pertanyaan ini, kami langsung pasang telinga.

Ustadz Shofwan: Nah, gini. memang ada hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa kondisi Palestina akan ricuh hingga akhir zaman. Tapi yang seharusnya kita perhatikan adalah lanjutan dari haditsnya. Bahwa orang-orang yang tinggal di Syam (baca: Palestina) punya kesempatan jihad yang lebih besar. Dan peluang inilah yang harusnya dimanfaatkan dengan sebaik2nya.
Bukankah Allah tidak melihat hasil? Allah hanya melihat prosesnya. Jadi berorientasilah pada proses, untuk berjihad di sana, dan bukan cuma hasil.

Subhanallah!

Ya Allah, sungguh, kami malu telah berprasangka buruk pada acara ini. Sudah mencap yang bukan-bukan pada acara ini. Diam-diam dalam hati kami beristighfar.

Lalu mulailah kami berkasak kusuk.

Putri: De, tanya dong.
Ade: tanya apaan?
Putri: tanya tentang urgensi jihad di sana. gimana caranya, dll.
Ade: ah, gak berani.
Putri: paling gak, jawabannya kan bisa memacu semangat jihad kita!

Hemm...betul juga nih. Bukan apa-apa. Tapi kami sebagai mujahidah kagetan, belum pernah sekalipun mendapat feedback positif dari keinginan kami untuk berjihadi di Palestina. Yang sering sih orang bilang, "Jihad harta lebih utama." atau "Jihad perempuan ada pada pengabdian kepada suami." Pokoknya membuat semangat kami tambah kuyu. sebel deh

Tapi ustadz ini beda!

Dengan berdebar-debar, aku nunggu momen untuk session kedua pertanyaan. Dan rupanya, session itu gak ada.

Yah. Setelah session itu ditutup, dimulailah pemutaran video Palestina.
Komentar apa yang muncul dari peserta?

Seram
Sadis
Ih, jahat banget ya
Masya Allah
Zionis sialan!
dll.

Kami berdua sedih banget lihatnya. Tapi di balik kesedihan itu, semangat kami kian terbakar, KAMI PASTI AKAN KE PALESTINA!

The Last...

"Pulang yuk? udah hampir siap tuh acaranya."
"E-eh. Ya, bentar lagi. tuh moderatornya nanya sesuatu sama ustadznya."

Moderator: Ustadz, jadi menurut ustadz nih, apa tindakan nyata yang bisa kami lakukan sebagai mahasiswa untuk palestina? kami kan masih mahasiswa, dan mungkin kelak akan jadi guru, dokter, dsb,dll. jadi agak susah untuk berjihad ke sana.

Ustadz Shofwan: Saya pernah bertemu dengan Imam Masjidil Haram, kebetulan waktu itu ada acara dan saya jadi moderatornya. saat itu, beliau mengatakan bahwa Palestina tidak butuh kehadiran kita di sana.

Deg! Wah, kami langsung deg degan.

Ustadz Shofwan: ...karena para ummuhat mereka siap memproduksi mujahid-mujahid kecil sebanyak-banyaknya. sedangkan yang mereka harapkan dari kita adalah bantuan financial. in sangat urgent, mengingat AS telah melakukan embargo ekonomi dan menghambat suplai dana ke Palestina. Sedangkan bantuan yang kedua adalah do'a. Karena do'a adalah senjata orang mukmin. dan yang ketiga, beliau juga menyebutkan bahwa melihat demonstrasi kita untuk menentang penjajahan Israel atas Palestina telah mebangkitkan kekuatan mereka hingga 10x lipat!

DEG! Collapse deh kami. Rupanya ustadz ini sama aja, gak ngedukung semangat kami untuk ke Palestina.

Huaaaa! Hiks... Hiks...

Ya udah deh, kami mau cari pendukung yang lain aja. Sebel pokoknya. Sebeel!

(Eh, heran juga nih. katanya mau jadi mujahidah, tapi kok masih childish ya jangan heran pembaca. yah, itulah kami, mujahidah kagetan cap kacang goreng. Masih modal semangat sama dengkul doang. Kapan yang kami bisa berubah?)

Pas mau pulang (The last of Last)


"Eh, tolong mintain dong."
"Gak mau, putri aja."
"Yee...katanya mau jadi mujahidah. Tapi masa urusan gini aja takut sih."

Aku hanya nyegir kuda. ya, kami memang lagi saling tunjuk menunjuk untuk minta tanda tangan tuh ustadz. Bukan buat koleksi pribadi lho, tapi buat ditempel di mading Asy-Syifa'.

"Dapat?" bisikku setelah bang Benny, panitia yang kami tumbalkan untuk minta tanda tangan dan pesan dari ustadz Shofwan berlalu.

"Dapat. Nih." selembar kertas berkop Susu bendera (bukan produk Zionis lho) diulurkan kepadaku. Beberapa baris kata tertulis di sana:

Untuk temen2 Asy-Syifa'

Subhanallah, temen-temen di sini sangat bersemangat ya! Semoga Allah mencurahkan barokah. saya bisa melihat cahaya kebangkitan di wajah kalian, Insya Allah!"

Lagi-lagi aku tersenyum kecut. Aku rasa, beliau benar...

Amiin do'anya. Tapi kapan ya cahaya kebangkitan itu akan bersinar?

Sulit menjawabnya. Apalagi bagi mujahidah-mujahidah cap kacang goreng seperti kami...