Kamis, 16 Oktober 2008

Adikku di Balik Dinding-Dinding Kaca

Apa yang ada dalam pikiran setiap orang saat mendengar istilah dinding-dinding kaca?

Seolah ada sebuah penyekat antara sesosok manusia dengan dunia luar. Dunia luar begitu dekat, tapi tak tersentuh.

Seorang penulis mengibaratkan dunia anak-anak autis dengan istilah 'dunia yang dibatasi dinding-dinding kaca'. Mereka (anak2 autis tersebut) begitu dekat, bahkan seolah satu bagian. Tapi tak tersentuh.

Begitu juga dengan adikku, Iqbal Ibrahim. Tahun ini di bulan Juni ia genap berusia 17 tahun.
Tapi ia tidak bersekolah, tidak pernah punya ijazah, dan tidak bisa membaca.

Ini semua karena dinding-dinding kaca yang telah menyekatnya bertahun2. Meski sekarang telah terbuka sedikit2 dengan cinta dari orang2 sekelilingnya, banyak luminal (obat anti epilepsi), dan hal2 yang didapatnya setiap hari, tapi aku terkadang merasa bahwa dinding kaca itu masih dapat muncul. Lalu menyekatnya dan ia tidak dapat digapai oleh seorang pun.

Saat masih kecil. dinding2 kaca itu begitu rapat mengukungnya. Ia terus berceloteh di dunianya sendiri, melakukan hal2 aneh yang tidak dapat dipahami oleh seorangpun (seperti bertepuk tangan sendiri tanpa sebab ataupun marah2 pada orang yang tak kelihatan). Meski cinta ibuku tidak pernah luntur, tapi dinding2 kaca itu ada disana.
Hanya sayang, tidak ada seorangpun yang menyadarinya ataupun melihatnya. hingga semua terlambat untuk ditangani. Bahkan kami sekeluarga baru mengetahui bahwa ia autis saat ia telah berusia 14 tahun. Saat ia dikeluarkan dari SLB karena dianggap siswa yang aneh dan tidak dapat diam, kami belum mengetahui penyakitnya secara pasti. Dokter yang kami temui hanya menyebut istilah hiperaktif.

Hingga tsunami, kemampuan motoriknya semakin membaik. Ia bisa bicara dengan orang lain, bisa menggambar, meski dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti, juga mengerti emosi orang lain. Dinding itu pelan2 mulai runtuh.

Lalu psikiater dari Jerman itu datang ke Aceh. Dan saat melihatnya, ia langsung berkata, "Dia Autis."
istilah itu terdengar absurd bagi kami. Lalu psikiater itu mengambil kertas, dan menyuruhnya menggambar. Iqbal menggambar, meski ia tidak mengerti.

"Ya, dia autis." sahut psikiter itu lagi."tapi kondisinya telah jauh membaik."
Dan kata2 itu telah cukup bagi kami semua.

Sekarang, hingga tanggal 15 Oktober 2008 ini, kemajuannya semakin pesat.
Ia menjadi semakin peduli terhadap sesama, bahkan saat aku sakit demam panas tinggi, ia akan mengatakan dengan tampang serius yang membuat kami tak dapat menahan senyum, "Jok luminal (aceh:kasih luminal)." sekilas kata yang biasa, tapi perhatiannya pada kami, menunjukkan bahwa ia telah berhasil memecahkan dinding kacanya.

Ia semakin cerdas. kemampuan motoriknya bagus, bahkan terkadang luar biasa. Ia mampu memahami cara memasang instrument rumit hingga tersambung dalam satu sistem. Seperti menghubungkan CPU dengan monitor, speaker, dll. Ia juga dapat berhitung, mengimprovisasikan segala sesuatu dengan keluguannya yang terasa murni.

Ada saat2 dimana aku merasa ia adalah orang yang paling kucintai di dunia ini.
Saat aku pulang, ia akan menyambutku dengan senyum lebarnya yang menunjukkan bahwa aku adalah orang yang paling berharga di dunia. Dengan ucapan keras penuh gembira, "eh, kak piya sayang sudah pulang."
Sungguh, aku merasa sangat berarti.
Saat aku sakit, ia akan membuatkanku susu
Saat hariku buruk karena dimarahi dosen di kampus, ia akan menghiburku dengan ucapan2 spontannya yang begitu alami, hingga segaris pelangi akan muncul di wajah siapapun yang mendengarnya.

Meski terkadang dinding kaca itu muncul dan ia kembali sibuk dengan dunianya
aku tahu bahwa kami akan bisa menariknya kembali
selalu bisa menariknya kembali kesini

Ia begitu berharga, begitu luar biasa.
karena ia autis, bukan berarti ia bukan manusia luar biasa.
Setiap manusia punya cahayanya sendiri.
Dan Iqbal, bagiku adalah cahaya rumah kami.
Tidak ada alasan untuk malu akan kehadiran seorang adik yang autis. Bhkan ini adalah anugerah yang terindah.

*Tidak ada maksud untuk mengiba, apalagi membuat iri orang2 yang tidak punya adik autis hanya ingin berbagi, sebagai seorang kakak dari pengidap autisme. Semoga bermanfaat.

0 komentar: