Jumat, 28 November 2008

Akan Pergi bersama Hujan

Hujan, rasa apakah yang larut dalam tiap nadanya?

Keindahan... 

Sedikit sunyi, mungkin juga hening, tapi satu kata mewakili segalanya

Bening...

Adakah rasa besinya darah

Dan asinnya air laut yang menghitam di ujung kota, saat bening menerpa?

Juga suara senapan yang mengiringi tidur anak-anak di masa silam, mungkin di masa depan belum sirna

Saat-saat indah itu mengatakan bahwa Tuhan belum tidur di bumi Aceh

Juga dimanapun ada udara bergerak

Di langit, di bumi, tak terbatas

Aku tahu bahwa Ia mendengar semua jeritan dan cabikan luka

Dan Ia, akan selalu hidup dalam tiap hujan yang berlalu

*Puisi ini dibuat untuk mengenang (hampir) 4 tahun tsunami, dan 3 tahun perjanjian damai.

Aceh telah (hampir) damai, moga untuk selamanya. 

Rabu, 26 November 2008

Mengapa Tidak Memilihku?

Manakah yang lebih bertahan antara cinta dan persahabatan?

Lebih abadi, dan lebih tulus?

Laki-laki itu datang dari jauh, lalu merebut sahabatku.

"Ia mencintaiku, kami berjanji untuk menikah."

Ya, aku melihat cahaya cinta itu. Satu kerjab, lalu ia semakin tidak tergapai. Semakin hari, semakin jauh.

apakah ia akan kembali untuk berbagi jika cinta itu menyakitinya?

Sungguh, aku tidak tahu. Hanya satu kalimatnya masih tersimpan dalam memori paling istimewa di hatiku.

"Maafkan aku sahabat, karena aku tidak bisa jadi seperti yang kau harapkan..."

Tidak perlu jadi seperti yang kuharapkan, cukup jadilah dirimu sendiri. 

Hanya kuharap, ia akan kembali pada persahabatan ini, pada saat cinta itu menyakitinya. Meski aku tidak berharap luka menyapa sahabatku itu.

Lalu ia menatapku, matanya gemintang.

"Kita sahabat, selamanya!"

Moga bukan hanya satu puisi.

Sahabat, karena aku mencintaimu. Maka kembalilah...

Jumat, 21 November 2008

Bahagia tanpa Menikah

Cantik, sebuah pujian yang terdengar indah di telinga makhluk bernama perempuan.

"Kamu cantik sekali hari ini..."

Dan hati seorang perempuan pun melambung.

Lantas, apakah seorang perempuan hanya dapat dikatakan cantik.

Bagaimana dengan pintar, shalihah, sopan?

"Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi2, nanti susah jodoh."

Aah...apakah hidup seorang perempuan hanya untuk mencari jodoh!

"De, kalo aku jadi cewek pinter pasti banyak yang suka ya!" (katanya bercanda)

Duuh...emang jadi pinter itu hanya untuk dapat cowok keren?

Perempuan, wanita, cewek, akhwat, apapun sebutannya, tidakkah mereka adalah makhluk mulia yang telah Allah ciptakan?

ada keindahannya yang menjadi ujian. Tapi apakah seorang perempuan itu hanya berharga dari penampilannya? Tidakkah ia juga berhak untuk mengembangkan kemampuan dan pemikirannya?

"Gak takut jadi perawan tua?" Itu pertanyaan yang sering terlontar ke seorang perempuan. Tapi jarang kan ada pertanyaan serupa ditujukan ke kaum laki2?

Allah...

tanpa bermaksud memojokkan satu jenis yang manapun dari ciptaan Allah, kadang kala hati ini perih saat melihat perempuan2 shalihah dengan segenap kelebihan yang Allah berikan pada mereka,belum juga mendapat jodoh hingga senja, masih harus menanggung label 'perawan tua' yang dilekatkan oleh masyarakat.

Tidakkah mereka berhak bahagia dengan kesendirian mereka? TAnpa diganggu dan dihakimi dengan label "tidak laku"

Sebab hidup seorang perempuan tidaklah sekedar untuk menikah. Sebagaimana laki2, ia tetap punya kewajiban untuk mengaktualisasikan kemampuannya demi kemashalatan umat, menikah maupun tidak.

Hidup seorang perempuan bukan sekedar untuk menikah. Sebab pernikahan hanyalah sebuah proses, bukan tujuan akhir.

Dan siapapun dia, perempuan maupun laki-laki, menikah tidak menikah, berhak bahagia..

Rabu, 12 November 2008

Cercalah agar Aku kuat

Kenapa harus selalu peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang dirimu?

***

Aku bukanlah orang yang kuat. Dan aku sadar benar akan kelemahanku ini.

Karena aku selalu terlindungi oleh cangkang halus yang melingkupiku.

Dari orang tua, kakakku satu2nya, dan orang-orang lain di sekitarku.

Saat aku terancam oleh sesuatu, pelindungku ini akan bergerak. Seolah tak ada satupun di dunia ini yang bisa menyakitiku. Meski sebenarnya bisa jika Allah berkehendak.

Mungkin karena terlalu dilindungi, maka aku menjadi orang yang lemah. Aku tidak siap dengan serangan dalam bentuk apapun. Sehingga dalam kehidupan aku lebih banyak diam. Cari aman.

Hal ini juga yang membuatku memilih dunia kepenulisan. Dalam benakku, menjadi penulis memisahkan aku dari banyak orang hingga aku akan selalu aman. Aman dari cacian,serangan, dan hal-hal yang menakutkan hati.

Tapi apa yang dapat kukatakan saat kenyataan menjadi berbeda?

suatu tulisanku yang dimuat di harian lokal, menjadi sasaran caci maki dari banyak pihak. lengkapnya bisa dilihat di sini.

Rata-rata orang yang membaca tulisan itu menghujatku. Mengataiku sebagai orang picik, manusia dangkal, orang yang ngasal cuap-cuap, dsb. Benar2 mengagetkan. Tanganku langsung panas dingin, dan sejak itu...

aku memilih diam.

Diam itu nyaman,sangat nyaman malah. 

Tapi aku tidak bisa diam untuk selamanya. Tidak. Terutama saat aku mendengar kata2 Hellen Keller di telingaku, "I'm one. and i'm still one. I can do something, but i can't do everything. So i won't refuse something that i can do."

Dan seseorang menyebutku orang yang picik saat aku mulai bicara lagi.

Biarlah, setelah kupikirkan. Banyak orang yang mengalami hal yang sama. Saat kubuka situs Seno Gumira Adjidarma, kulihat banyak orang yang mencercanya dengan sangat kasar juga.

Lalu kurenungkan.

Ah manusia! Tak ada habisnya untuk dimengerti.

Sebagaimana kisah ayah-anak yang membawa keledai, aku tidak harus memanggul keledaiku untuk memenuhi keinginan orang-orang kan? biar saja mereka dengan opininya!

Senin, 10 November 2008

Terlalu mencintai, sehingga bersalah?

Telalu mencintai, hingga jadi bersalah? 

Ehmm...banyak kisah cinta di sekitar kita. Sebagian besar beraroma sufistik, penghambaan pada Illahi Rabbi. Yang jika diamati terlihat bercahaya, dan jika didekati memberikan wangian kasturi, wangian surga.

Ada juga kisah cinta yang indifferent, acuh tak acuh. Tapi cinta itu ada. Bersemi indah, tapi dalam rasa malu yang sangat. Dan ketakutan yang amat akan kehilangan cinta. Maka cinta itu hanya menjadi suatu kisah yang singkat.

Ada cinta yang menyakiti, cintanya manusia pengidap sadisme, cintanya orang masochist*, cinta yang obsesif, cinta yang posesif...semua bentuk dari cinta itu tidaklah selalu berbentuk jantung, seperti yang banyak disebutkan manusia dari jaman baheula, "I love you with all my heart." yang latah diartikan oleh orang Indonesia dengan "Aku mencintaimu sepenuh hatiku." Padahal heart ini jantung, bukan hati. TAPi biarlah kesalahan berbahasa ini tak udah terlalu saya ungkit

dan satu kisah yang memilukan datang dari memori masa lampau.

***

"De, aku mau mati aja."

aku terdiam,"Becanda ya Ndin?" *Note: bukan nama asli.

"Enggak ade, kemarin aku baru menelan obat penenang, 15 butir."

Kutatap matanya. Ada mata gadis yang menderita dalam cinta. Ada seseorang yang terlalu mencintai, hingga ia bahkan tega menyakiti dirinya, karena cinta yang tersia-sia."

"Alhamdulillah Allah masih memberiku kehidupan. Tapi..." Sinar wajahnya meredup,"Aku gak bisa melupakannya."

Dialog panjang kami masih berlangsung. SEmua khas hati yang patah. Ada tangis, kesenduan, kebimbangan, kehilangan arah.

"Ade, aku kapok pacaran. Ini untuk yang terakhir kalinya, titik!"

aku menatap matanya dalam-dalam. sambil menyimpan sebaris doa dalam hatiku untuknya.

Lalu, apa yang harus kukatakan saat perjumpaan terakhir kami yang entah, justru memberiku kabar tentang ia dan pacar barunya?

"Yang terakhir. Aku akan nikah sama dia." katanya mantap. Lagi-lagi aku menyimpan satu do'a.

Pernikahan itu tidak pernah terjadi.

Hingga saat ini, sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Aku bahkan tidak tahu, di bumi manakah ia sudah berada. Entah kenapa, tiba-tiba aku mengingatnya. Dan lagi-lagi, aku masih menyimpan doa untuknya. Tidak hanya satu, tapi beberapa.

Cinta apakah yang dimilikinya?

Entahlah, aku hanya berharap, ia tidak akan pernah kehilangan cinta sejati yang semestinya bisa dimilikinya. Hingga saat itu tiba, biarlah aku tetap menuliskan tentang cinta itu dan menyimpan banyak doa untuk Andin, dan sejuta sahabat2 ku, dimanapun mereka berada.

Agar cinta, tetap menyentuh mereka dalam kebahagiaan yang hakiki.

Endless...

Selamanya...

Sabtu, 08 November 2008

Catatan singkat dari Hati

Aku adalah ***singkat

Bukan siapa-siapa

Layaknya sebuah irama

Satu...

Dua...

Tiga...

Hingga aku mendengar

Tuhan mengetahuiku dari malaikatNya

Sebab aku tidak sepenting itu di mataNya

Tapi aku ingin mengenalNya, tanpa perantaraan malaikatNya

Sebab aku ingin Dia

Sangat menginginkanNya

Meski tanganku tinggal sepotong

Aku akan tetap menginginkanNya...

*Diary Sunyi dari seorang hamba yang tidak pernah mengenal dirinya...

Sabtu, 01 November 2008

Pernikahan yang Awalnya Tak Indah

Saat saya sedang beres-beres di sebuah ruangan, saya menemukan sebuah undangan emas. Di dalamnya jelas tertulis: Menikah Ikhwan X dan Akhwat Y.

aah... sebenarnya undangan itu hanyalah undangan yang biasa saja. Sama dengan undangan2 lain yang sering mampir ke rumah. Meski undangan itu lebih mewah, indah dengna warna coklat keemasan yang tampak istimewa, tapi itu tetap sebuah undangan yang biasa.

Yang tidak biasa adalah hati saya saat melihat undangan itu.

Ups, kenapa ada yang berdehem? Bukan maksud saya cemburu karena Ikhwan itu sudah menemukan tambatan hatinya. Bukan! Bukan juga saya keberatan dengan pernikahan mereka. Hanya yang membuat saya sedih adalah kisah yang melatarbelakangi pernikahan itu. Yang dari info2 tertentu, sampai ke telinga saya. Meski saya tidak bermaksud bergosip tapi kisah itu sampai juga. Wajar saya pikir, karena si ikhwan memang termaksud Superstar di kampus kami. jadi berita apapun tentang seorang superstar pasti banyak menjadi perbincangan.

ehem! sebelum saya mulai bercerita, saya ingatkan bahwa blog saya ini bukan sitenya Insert, Kabar-Kabari, Cek dan Ricek ataupun infotainment sejenisnya. Jadi kalau ada yang mengetahui kisah ini tentang apa, siapa, tolong jangan ribut2 ! Oke! Ini bukan dimaksudkan untuk gosip. Sekedar berbagi hikmah. Semoga Allah mengampuni saya, jika saya salah menceritakan ini disini.

Amin...

Dia menikah?

"Menikah?"

"Ya," sahut kakak itu. Wajahnya biasa saja. Tapi saya tahu, ada pilu yang tersimpan (waah, kalo kakak baca ini, jangan marah ya. identitas kakak aman kok!).

"Dengan siapa?" saya bertanya hati-hati. Seharusnya tiap pernikahan menjadi suatu kabar gembira, bukannya dibicarakan dengan kesenduan seperti ini. Pikir saya waktu itu.

"Dengan adik kelasnya, Akhwat Y (nama disamarkan untuk keamanan. hehe...)"

"Akhwat Y?" saya berpikir keras. mencoba membongkar memori tentang seorang kakak kelas yang bernama Akhwat Y. Bukan apa2, pamor sang ikhwan ini sangat terkenal di kampus. Dia pernah menduduki jabatan strategis di kampus, aktivis dakwah, pintar, tawadhu', dll yang bagus2 (yang tahu siapa tolong jangan ribut-ribut! hehe...) jadi wajar kalau seharusnya pendampingnya itu sekualitas Ikhwan X ini.

"Akhwat ya?" Tanya saya hati-hati (perhatian! Ikhwan dan akhwat yang saya gunakan disini kembali kepada kelaziman yang umum dipahami, yaitu ditujukan untuk aktivis dakwah, dan bukan pada segi kebahasaannya). Kali ini lebih hati2, karena rona sendu di wajah si kakak semakin bertambah.

"Bukan."jawabnya lagi."Kakak itu biasa aja, bahkan dulunya suka pake jins ke kampus. sekarang aja udah agak berubah.Tipe anak gaul."

"Ooh..." jawab saya singkat aja. habis bingung mau tanggapin apa. Takut2 malah berghibah.

"Entah kenapa..." Lanjut si kakak dengan mata agak menerawang. Selanjutnya kami terdiam, agak sungkan melanjutkannya. Kami berdua bukan tipe orang yang suka bergosip, tapi berita tentang si ikhwan ini menjadikan kami ingin tahu. Karena...

Entahlah.

Tapi saya tahu ada sesuatu di mata si kakak, yang membuat saya tidak berani menghentikannya untuk membicarakan Ikhwan X ini. Seperti kabut yang tidak saya pahami.

"Calon istrinya ini orang kaya. Ke kampus naik mobil." Lagi2 hening.

Saya mengerti maksud si kakak. Ikhwan X ini terlalu sederhana. Amat sangat sederhana. Dengan statusnya sebagai anak yatim dan tanggungan adik2nya yang banyak, tentu kehidupannya setamat koass nanti akan semakin sulit. Semua mengerti kemana arah pembicaraan ini. Hanya saya tidak ingin percaya, dan tetap ingin bersu'udzhan pada si ikhwan.

"Gak mungkin dia seperti itu kak."

"kenapa gak mungkin dek?" tanya si kakak balik, seolah menantang.

"karena ade percaya, si ikhwan terlalu baik untuk jadi seperti itu."

Si kakak mengangguk. Lalu kali ini kami benar2 menutup mulut tentang Ikhwan X ini.

Menikah Karena Uang???

Benar saja, berita tentang pernikahan si ikhwan ini menyebar di kampus dengan cepat. Dan meski semua orang menutup mulutnya rapat2, tapi tak urung kabar tak sedap meruak juga. 

Semua bertanya-tanya, bagaimana mungkin si ikhwan X ini bisa menikah dengan Akhwat Y? sangat tidak sepadan!

Saat itu, saya sama sekali tidak ingin berkomentar. Karena pikiran saya yang picik, saya berpikir sederhana saja: Cinta itu bukan sesuat yang bisa diperhitungkan atau disepadan2kan. Dan jodoh di tangan Allah.

Suatu hari, cerita itu sampai juga.

"Dia dijodohkan."

Saya hanya mengangguk. Pernikahan karena perjodohan di Aceh adalah sesuatu yang sangat biasa, apalagi di daerah asal si ikhwan, kampung X. Dimana setiap orang dari sana diharapkan menikah dengan orang sekampung (yang tahu nama daerahnya dilarang ribut2! ). Saya tidak pernah berpikir ke arah sana, hingga tanpa sadar saya bertanya,

"Kenapa?" Kenapa si ikhwan mau? Itu sambungannya.

Kakak itu menatap saya. Kakak yang sama, tempat pertama kalinya saya mendengar kabar pernikahan si ikhwan. Lalu meluncurlah cerita. Tentang peran keluarga besar dari kedua belah pihak, lalu janji untuk ditanggung biaya melanjutkan spesialis, hadiah mobil dari calon mertua, dan hal2 lain yang terlalu menyedihkan untuk diterangkan lebih jauh.

ah, saya tidak mengerti. Apalagi kisah selanjutnya adalah tentang seorang akhwat yang hatinya terluka karena ditinggalkan oleh Ikhwan X setelah berjanji untuk menikah.

Saya tahu bahwa janji2 seperti itu tidak memiliki kekuatan syariat apa2. bahkan terkadang hanya menjadi jebakan syaitan untuk menjebak manusia hingga melanggar syariat. dan ujungnya adalah hati-hati yang patah.

"Sudah lama, dia menjalin hubungan dengan akhwat itu. Hanya via SMS."

Tapi dua tahun! 

Aahh...saya tidak mengetahui nama akhwat itu, dan saya tidak berniat mencari tahu. Tapi saya tahu, ada hati yang patah dalam cerita ini. Dan mungkin bukan hanya satu hati.

Lalu kami terdiam. Besok adalah hari akad nikah Ikhwan x dan Akhwat y. Kami tidak ingin berkomentar, ataupun menyebarkan kisah ini kemana-mana.

"Memang, jodoh tidak ada seorang pun yang tahu."

saya mengangguk, saya tahu itu.

"Dan manusia, juga cepat berubah."

kali ini saya tidak mengangguk, "Belum tentu."

Dan sekali lagi, untuk mengobati rasa bersalah saya karena telah mengghibah si ikhwan (saya tidak tahu ridhakah dia atas omongan kami ini, semoga Allah mengampuni kami)

"Dia punya alasan. Dan ade tidak percaya dia seperti itu!"

Lagi-lagi kami terdiam.

"Ya, mungkin benar. lagipula, seandainya kita ada di posisi dia, apa lagi hal terbaik yang akan kita lakukan?"

Kami kembali terdiam. Pikiran saya melayang. Saya tidak terlalu mengenal si ikhwan. Tapi kisah2 banyak orang tentang ia menjadikan saya seolah mengenalnya. Kisah2 yang selalu mampir, bahkan saya tidak perlu bertanya (bukan saya sengaja mencari info ya). Bukti bahwa si ikhwan mendapat tempat khusus di hati banyak orang.

Ia orang yang sangat sederhana

Bersahaja.

Tiap hari, dengan motor butut, ia menjemput adik2nya di sekolah.

Berprestasi di kampus.

Rendah hati.

Pernah menduduki jabatan penting di BEM dan lembaga dakwah kampus.

Dan sang Akhwat X? Entahlah, saya tidak banyak mendengar kisah tentangnya. Sosoknya bukanlah sentral dari banyak pembicaraan.

Apa yang ada di hatinya jika mendengar orang membicarakannya?

Entahlah, mungkin satu lagi luka.

Luka, lagi lagi luka. Padahal seharusnya sebuah pernikahan itu berawal dengan kebahagiaan.

Saya tidak pernah mengenal ikhwan X dan akhwat Y ini, tapi hari itu saya ingin berdoa

"Ya Allah, hamba tidak mengenal mereka, tapi berkahilah pernikahan mereka... Barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fi khairi."

Lalu saya menatap si kakak yang masih berada di samping saya. Dari wajahnya, saya tahu ia memikirkan hal yang sama dengan saya. Ia telah ikhlas...

Saya berharap semua orang yang tidak ikhlas dengan pernikahan mereka, kini menanamkan keikhlasan dalam hati2 mereka.

Amiin...

Setelah itu kami sama sekali berhenti membicarakannya. Semoga untuk selamanya

PS: Cerita ini sama sekali bukan saya maksudkan untuk bergosip atau untuk mendiskreditkan salah satu pihak, saya hanya ingin berbagi hikmah. Hikmah yang saya dapatkan dari kisah ini, semoga dapat ditangkap oleh semua yang membacanya. Untuk itulah saya menuliskannyanya. So, yang tahu apapun info tentang hal2 yang dirahasiakan dalam kisah ini, jangan ribut-ribut ya! Syukran...