Saat saya sedang beres-beres di sebuah ruangan, saya menemukan sebuah undangan emas. Di dalamnya jelas tertulis: Menikah Ikhwan X dan Akhwat Y.
aah... sebenarnya undangan itu hanyalah undangan yang biasa saja. Sama dengan undangan2 lain yang sering mampir ke rumah. Meski undangan itu lebih mewah, indah dengna warna coklat keemasan yang tampak istimewa, tapi itu tetap sebuah undangan yang biasa.
Yang tidak biasa adalah hati saya saat melihat undangan itu.
Ups, kenapa ada yang berdehem?
Bukan maksud saya cemburu karena Ikhwan itu sudah menemukan tambatan hatinya. Bukan! Bukan juga saya keberatan dengan pernikahan mereka. Hanya yang membuat saya sedih adalah kisah yang melatarbelakangi pernikahan itu. Yang dari info2 tertentu, sampai ke telinga saya. Meski saya tidak bermaksud bergosip
tapi kisah itu sampai juga. Wajar saya pikir, karena si ikhwan memang termaksud Superstar di kampus kami. jadi berita apapun tentang seorang superstar pasti banyak menjadi perbincangan.
ehem! sebelum saya mulai bercerita, saya ingatkan bahwa blog saya ini bukan sitenya Insert, Kabar-Kabari, Cek dan Ricek ataupun infotainment sejenisnya. Jadi kalau ada yang mengetahui kisah ini tentang apa, siapa, tolong jangan ribut2 ! Oke!
Ini bukan dimaksudkan untuk gosip. Sekedar berbagi hikmah. Semoga Allah mengampuni saya, jika saya salah menceritakan ini disini.
Amin...
Dia menikah?
"Menikah?"
"Ya," sahut kakak itu. Wajahnya biasa saja. Tapi saya tahu, ada pilu yang tersimpan (waah, kalo kakak baca ini, jangan marah ya. identitas kakak aman kok!).
"Dengan siapa?" saya bertanya hati-hati. Seharusnya tiap pernikahan menjadi suatu kabar gembira, bukannya dibicarakan dengan kesenduan seperti ini. Pikir saya waktu itu.
"Dengan adik kelasnya, Akhwat Y (nama disamarkan untuk keamanan. hehe...
)"
"Akhwat Y?" saya berpikir keras. mencoba membongkar memori tentang seorang kakak kelas yang bernama Akhwat Y. Bukan apa2, pamor sang ikhwan ini sangat terkenal di kampus. Dia pernah menduduki jabatan strategis di kampus, aktivis dakwah, pintar, tawadhu', dll yang bagus2 (yang tahu siapa tolong jangan ribut-ribut! hehe...
) jadi wajar kalau seharusnya pendampingnya itu sekualitas Ikhwan X ini.
"Akhwat ya?" Tanya saya hati-hati (perhatian! Ikhwan dan akhwat yang saya gunakan disini kembali kepada kelaziman yang umum dipahami, yaitu ditujukan untuk aktivis dakwah, dan bukan pada segi kebahasaannya). Kali ini lebih hati2, karena rona sendu di wajah si kakak semakin bertambah.
"Bukan."jawabnya lagi."Kakak itu biasa aja, bahkan dulunya suka pake jins ke kampus. sekarang aja udah agak berubah.Tipe anak gaul."
"Ooh..." jawab saya singkat aja. habis bingung mau tanggapin apa. Takut2 malah berghibah.
"Entah kenapa..." Lanjut si kakak dengan mata agak menerawang. Selanjutnya kami terdiam, agak sungkan melanjutkannya. Kami berdua bukan tipe orang yang suka bergosip, tapi berita tentang si ikhwan ini menjadikan kami ingin tahu. Karena...
Entahlah.
Tapi saya tahu ada sesuatu di mata si kakak, yang membuat saya tidak berani menghentikannya untuk membicarakan Ikhwan X ini. Seperti kabut yang tidak saya pahami.
"Calon istrinya ini orang kaya. Ke kampus naik mobil." Lagi2 hening.
Saya mengerti maksud si kakak. Ikhwan X ini terlalu sederhana. Amat sangat sederhana. Dengan statusnya sebagai anak yatim dan tanggungan adik2nya yang banyak, tentu kehidupannya setamat koass nanti akan semakin sulit. Semua mengerti kemana arah pembicaraan ini. Hanya saya tidak ingin percaya, dan tetap ingin bersu'udzhan pada si ikhwan.
"Gak mungkin dia seperti itu kak."
"kenapa gak mungkin dek?" tanya si kakak balik, seolah menantang.
"karena ade percaya, si ikhwan terlalu baik untuk jadi seperti itu."
Si kakak mengangguk. Lalu kali ini kami benar2 menutup mulut tentang Ikhwan X ini.
Menikah Karena Uang???
Benar saja, berita tentang pernikahan si ikhwan ini menyebar di kampus dengan cepat. Dan meski semua orang menutup mulutnya rapat2, tapi tak urung kabar tak sedap meruak juga.
Semua bertanya-tanya, bagaimana mungkin si ikhwan X ini bisa menikah dengan Akhwat Y? sangat tidak sepadan!
Saat itu, saya sama sekali tidak ingin berkomentar. Karena pikiran saya yang picik, saya berpikir sederhana saja: Cinta itu bukan sesuat yang bisa diperhitungkan atau disepadan2kan. Dan jodoh di tangan Allah.
Suatu hari, cerita itu sampai juga.
"Dia dijodohkan."
Saya hanya mengangguk. Pernikahan karena perjodohan di Aceh adalah sesuatu yang sangat biasa, apalagi di daerah asal si ikhwan, kampung X. Dimana setiap orang dari sana diharapkan menikah dengan orang sekampung (yang tahu nama daerahnya dilarang ribut2!
). Saya tidak pernah berpikir ke arah sana, hingga tanpa sadar saya bertanya,
"Kenapa?" Kenapa si ikhwan mau? Itu sambungannya.
Kakak itu menatap saya. Kakak yang sama, tempat pertama kalinya saya mendengar kabar pernikahan si ikhwan. Lalu meluncurlah cerita. Tentang peran keluarga besar dari kedua belah pihak, lalu janji untuk ditanggung biaya melanjutkan spesialis, hadiah mobil dari calon mertua, dan hal2 lain yang terlalu menyedihkan untuk diterangkan lebih jauh.
ah, saya tidak mengerti. Apalagi kisah selanjutnya adalah tentang seorang akhwat yang hatinya terluka karena ditinggalkan oleh Ikhwan X setelah berjanji untuk menikah.
Saya tahu bahwa janji2 seperti itu tidak memiliki kekuatan syariat apa2. bahkan terkadang hanya menjadi jebakan syaitan untuk menjebak manusia hingga melanggar syariat. dan ujungnya adalah hati-hati yang patah.
"Sudah lama, dia menjalin hubungan dengan akhwat itu. Hanya via SMS."
Tapi dua tahun!
Aahh...saya tidak mengetahui nama akhwat itu, dan saya tidak berniat mencari tahu. Tapi saya tahu, ada hati yang patah dalam cerita ini. Dan mungkin bukan hanya satu hati.
Lalu kami terdiam. Besok adalah hari akad nikah Ikhwan x dan Akhwat y. Kami tidak ingin berkomentar, ataupun menyebarkan kisah ini kemana-mana.
"Memang, jodoh tidak ada seorang pun yang tahu."
saya mengangguk, saya tahu itu.
"Dan manusia, juga cepat berubah."
kali ini saya tidak mengangguk, "Belum tentu."
Dan sekali lagi, untuk mengobati rasa bersalah saya karena telah mengghibah si ikhwan (saya tidak tahu ridhakah dia atas omongan kami ini, semoga Allah mengampuni kami)
"Dia punya alasan. Dan ade tidak percaya dia seperti itu!"
Lagi-lagi kami terdiam.
"Ya, mungkin benar. lagipula, seandainya kita ada di posisi dia, apa lagi hal terbaik yang akan kita lakukan?"
Kami kembali terdiam. Pikiran saya melayang. Saya tidak terlalu mengenal si ikhwan. Tapi kisah2 banyak orang tentang ia menjadikan saya seolah mengenalnya. Kisah2 yang selalu mampir, bahkan saya tidak perlu bertanya (bukan saya sengaja mencari info ya
). Bukti bahwa si ikhwan mendapat tempat khusus di hati banyak orang.
Ia orang yang sangat sederhana
Bersahaja.
Tiap hari, dengan motor butut, ia menjemput adik2nya di sekolah.
Berprestasi di kampus.
Rendah hati.
Pernah menduduki jabatan penting di BEM dan lembaga dakwah kampus.
Dan sang Akhwat X? Entahlah, saya tidak banyak mendengar kisah tentangnya. Sosoknya bukanlah sentral dari banyak pembicaraan.
Apa yang ada di hatinya jika mendengar orang membicarakannya?
Entahlah, mungkin satu lagi luka.
Luka, lagi lagi luka. Padahal seharusnya sebuah pernikahan itu berawal dengan kebahagiaan.
Saya tidak pernah mengenal ikhwan X dan akhwat Y ini, tapi hari itu saya ingin berdoa
"Ya Allah, hamba tidak mengenal mereka, tapi berkahilah pernikahan mereka... Barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fi khairi."
Lalu saya menatap si kakak yang masih berada di samping saya. Dari wajahnya, saya tahu ia memikirkan hal yang sama dengan saya. Ia telah ikhlas...
Saya berharap semua orang yang tidak ikhlas dengan pernikahan mereka, kini menanamkan keikhlasan dalam hati2 mereka.
Amiin...
Setelah itu kami sama sekali berhenti membicarakannya. Semoga untuk selamanya
PS: Cerita ini sama sekali bukan saya maksudkan untuk bergosip atau untuk mendiskreditkan salah satu pihak, saya hanya ingin berbagi hikmah. Hikmah yang saya dapatkan dari kisah ini, semoga dapat ditangkap oleh semua yang membacanya. Untuk itulah saya menuliskannyanya. So, yang tahu apapun info tentang hal2 yang dirahasiakan dalam kisah ini, jangan ribut-ribut ya! Syukran...
0 komentar:
Posting Komentar