Minggu, 20 Desember 2009

Tentang Kesedihan dan Kehilangan

Saya telah dewasa

tiba-tiba saya melihat cermin dan tidak lagi menemui sosok anak usia 8 tahun yang sering tersenyum malu-malu dengan gigi jarang itu, melainkan sesosok manusia dengan wajah kusut dan kantung hitam di bawah mata

apa yang telah saya lakukan selama 20 tahun hidup ini? saya tak urung bertanya-tanya

sedikit, mungkin

sangat sedikit

betapa banyak kesempatan bagus untuk berbuat, untuk berprestasi, yang saya lewatkan begitu saja. begitu banyak peluang untuk menjadi manusia yang lebih saya campakkan begitu saja.

dan anehnya, di satu sisi saya melihat begitu banyak kebodohan yang saya lakukan. emosi yang diumbar tidak pada tempatnya, space untuk memikirkan dan melakukan hal-hal bodoh yang begitu lebar, dan bahkan manusia yang terlewatkan begitu saja.

Yah, meniru salah satu judul lagu, Yang Terlewatkan.

***

saya pernah pnya sahabat.

mungkin saya memakai kata pernah, ketimbang tanpa kata "pernah"

sebab saya ragu apakah kami masih bersahabat hingga kini. meski ketika saya bertemu dengan dia di suatu waktu, dengan latar belakang keriuhan, dan bertanya, "Kita masih bersahabat kan?"

Dia menjawab dengan senyum, "Yah, mungkin."

Jadi saya putuskan untuk tidak memaksa melabelkan bahwa kami sahabat lagi.

saya tercenung menatapnya.

Dia pernah menjadi sahabat terdekat saya. sangat dekat. dia mengenal tentang diri saya seperti membaca buku yang terbuka, dia masuk dalam kamar saya, yang dulunya adalah akses paling pribadi dalam hidup saya,. dia memiliki segala sesuatu tentang diri saya, dan dekat dengan keluarga saya.

apa lagi yang kurang?

tidak ada

kami satu pemikiran, satu visi, satu jalan. kami cocok seperti dua pasangan puzzle. saya menjadi puzzle di pojokan, dan dia yang di tengah dan menjadi pusat dari segalanya.

tapi semua tidak masalah.

lalu ada kekecewaan, kesibukan, orang-orang baru. semua berjalan. ada waktu, kebersamaan yang terlewatkan.�

hingga semuanya buyar, dan saya mencoba menghindar. kami telah menempuh satu jalan begitu lama, mengapa sekarang harus berpisah?

dan disinilah kami saat itu, menatap jalan-jalan yang bercabang di kanan, kiri, depan, gradien 1, 2, 3,... dan dia menatap ke suatu jalan,"Aku ke sini."

saya menatapnya, tidak yakin kali ini akan mengikutinya. saya selalu mengikutinya seumur hidup, tapi kali ini, aku tidak yakin."aku,... tidak ikut."

"Terserah." Lalu dia pergi.

Saya terdiam lama di persimpangan itu, hingga saya memilih jalan yang lain. dan memutuskan untuk menyerah.

mungkin kami masih bersahabat, hati saya berbisik.

mungkin kami akan berjumpa di persimpangan berikutnya.

tapi di persimpangan berikutnya dia tidak ada. dan terus, terus,,, dia tidak ada di persimpangan manapun.

Dan kini, saya hanya merasai sesak tiap mengingatnya. mungkin satu janji itu masih ada, dia masih mengingatnya hingga kini.

"Bersemangatlah! Janji ya, kita adalah teman di surga!"

dan bahkan dalam mimpi saya berharap dia masih mengingatnya. Hingga kami, bisa berjumpa di persimpangan berikutnya.meski bahkan saya tidak yakin bahwa jalan yang saya tempuh adalah yang terbaik. tapi setidaknya, kami bisa kembali memilih jalan bersama.

Mungkin...

*saat benar2 berpikir untuk menyerah

*gambar dari: http://images.quickblogcast.com/3/5/0/7/8/197822-187053/woods.jpg

Jumat, 11 Desember 2009

Postingan terpendek: BLUES

Entah kenapa, perasaanku akhir-akhir ini rada blues

kebanyakan dosa ya, sehingga sulit mengendalikan perasaan

Akhirnya, aku berharap Allah memberi kita cahayaNya, selalu

Minggu, 22 November 2009

terhubung dengannya

Terkadang, aku menatap langit, dan bertanya-tanya: sedang apa ia sekarang? Dimana ia berada sekarang? dan apa yang dilakukannya?

Aku ingin bertanya pada rumput: rumput, dapatkah kau mengabarkan pada angin salam kerinduanku padanya?

Rumput meliuk, mengerti dan berkabar dengan angin.

Aku menyapa burung merpati yang hinggap di atas genting rumahku: burung, dapatkah kau terbang ke tempat dimana ia berada? lihat apakah ia baik-baik saja.

Merpati itu terbang, memenuhi permintaanku.

Lama aku menunggu, hingga seekor kucing lewat: kucing, sejauh mana kau sanggup menggembara? tolong temani ia saat rasa sepi menyergapnya dan menjadikannya jatuh.

kucing itu berlalu dengan lenggang santai, menjawab pesanku.

Aku menunggu rumput, merpati, dan kucing itu kembali dengan pesanku. Lama, tapi mereka tidak kembali.

Ah... aku kecewa, putus asa. Rindu ini, kenapa tidak terbalas?

Hingga angin dan udara malam menerpa, tidak ada yang datang membalas salam rinduku. Aku kecewa, dan sangat terusik. Kemana mereka? Kenapa dia tidak menjawab? aku rindu... Rindu... Tidak adakah pembawa pesan yang lebih baik?

Telepon, SMS, itu semua tidak lebih baik dari menitipkan pesan pada alam. Sebab aku kehilangan rasa percaya pada benda-benda usang itu, terlalu lama...

Angin menerpa lebih kencang, lalu dalam kegelapan, aku melihat mereka: merpati, rumput, dan kucing.

Kalian! panggilku. apa jawaban dari salam-salamku?

Serentak, mereka bertiga menjawab, kami tidak sanggup menyampaikan pesanmu, kami tidak dapat mencapainya.

Kenapa? tanyaku putus asa.

kami tidak sanggup. Ia terlalu jauh.

lagi-lagi hening membuatku putus asa. Lalu apa yang harus kulakukan? aku hampir menjerit.

Sudahkah kau meminta pada TUHAN untuk mengirimkan pesanmu? tiba-tiba pohon yang sedari tadi diam berkata.

aku tercekat. Tuhan?

Mereka sudah berusaha tapi tidak mampu. semua SMS, telepon, maupun dirimu tidak dapat mencapainya.Jika Tuhan tidak bisa, maka siapa lagi yang bisa?

Aku terpana, Tuhan?

"Mintalah padaKu, niscaya akan kuperkenankan..." KalimatNya terngiang.

Aku menengadahkan tangan, seperti pengemis meminta pada dermawan, memohon agar aku dan dia terhubung, selalu, selamanya... Kali ini aku percaya salamku sampai, rinduku menyentuhnya, dan cintaku tidak hampa... Sebab Tuhan tidak mungkin salah.

Dan bahkan dalam mimpi, aku melihat satu hal: kami terhubung...

Alhamdulilllah...

Gambar dari: http://www.mentalhelp.net/images/root/connected1_id145844_jpg_.jpg

Senin, 16 November 2009

Seek for the Truth: No End

Sebenarnya, aku paling tidak suka menuliskan hal-hal yang pribadi di blog. kenapa? Yah, karena hal-hal pribadi tentang aku, tidak ada yang penting untuk orang ketahui.�
aku yang senang bertualang, tidak ingin didikte, mencari kebenaran dengan caraku sendiri... untuk apa orang lain tahu?�

tapi entahlah, yang jelas aku kali ini, ingin berbagi lagi tentang topik yang sama: kebenaran.

Sudah belasan kali aku menulis tentang kebenaran di blog ini:pencarian, orang-orang yang mencarinya, cara mencarinya, dll. tapi kali ini sedikit berbeda. aku ingin berbagi tentang pencarianku akan kebenaran itu sendiri. yah, cerita yang agak sensitif.

Oke, jadi aku adalah aku. waktu kecil aku adalah anak yang selalu duduk di depan TV, penasaran dengan dunia yang aku lihat. rasanya begitu banyak yang ingin kuketahui, begitu banyak yang belum kukenal. aku ingin bertanya, aku ingin tahu.�

sayangnya, orangtuaku sewaktu kecil bukan orangtua yang ramah. tidak punya cukup waktu dan serba sibuk. aku ingin bertanya, tapi mereka tidak punya waktu untuk mendengar. karena ada daftar panjang kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi: makanan, uang susu, listrik, bensin, dll. jadi aku bungkam dan hanya sekali-kali mendengar jawaban dari pertanyaanku. satu sisi positifnya adalah aku jadi terbiasa untuk tidak menerima, tapi mencari.

Besar sedikit, saat aku sudah dapat membaca, aku mulai melalap buku-buku yang tersedia di rumah. sebagian isinya tidak kumengerti; junal kedokteran yang rumit, koran yang mengerikan dengan ilustrasi berdarah,.. ayahku hanya sekali-kali membelikanku buku,meski aku meminta berkali-kali. sehingga aku terpaksa mengulang-ngulang satu buku bergambar yang sangat cepat habis dibaca hingga buku baru dibeli. saat aku mengorek-ngorek buku koleksi ibuku saat aku benar-benar haus akan bacaan: aku menemukan satu majalah: Annida (Annida adalah majalah islami yang sarat dengan nilai-nilai sastra. isinya kebanyakan cerpen dibanding dng konten lainnya). saat itu aku tidak mengerti apa itu. aku hanya ingin membaca, dan aku suka cerita. maka aku membaca.

Dan rupanya Annida itu sangat menarik! aku jd keranjingan membaca Annida itu, setiap datang yang baru, berebut aku dan kakakku membaca. meski Annida itu bukan majalah bersegmen anak, tapi ibuku membiarkan saja. karena toh, tidak mungkin ada konten berbahaya yang dikandung majalah bercorak islam. apalagi saat itu Annida belum seterbuka sekarang. benar-benar membumi, nilai islamnya kuat dan murni.�

Nah, dari situlah aku tahu beberapa nilai dasar; tentang jilbab, haramnya pacaran... hal-hal dasar yang dikemudian hari menjadi sangat bermanfaat. dulunya, aku tidak tahu pacaran itu haram, di TV toh kita setiap saat disuguhi adegan pacaran, cinta, dll. tapi dari Annida, aku tahu sehingga stigma yang telah terbentuk dari kecil itu melekat dengan kuat hingga dewasa. akibatnya jelas, aku dan kakakku tidak pernah sekalipun pacaran maupun tertarik untuk pacaran.�

Demikian juga masalah jilbab, dari Annidalah kami tahu dan tertarik akan jilbab. sehingga saat kami mulai baligh, kami langsung memakai jilbab permanen dan tidak dilepas lagi sekalipun, bahkan sekedar untuk keluar perkarangan rumah.dari Annida juga kami tahu jilbab yang benar itu seperti apa, dll. sehingga saat kami memakai jilbab, kami langsung memakai jilbab jadi, meski tidak panjang tapi lebar menutup dada. plus baju kurung yang longgar dan rok panjang tanpa belahan. semua terjadi alami tanpa perintah ortu. bahkan ibuku tertarik mempelajari Islam lebih jauh setelah kami disiplin berjilbab.

Pengalaman masa kecilku itu menjadi pelajaran, rupanya untuk membentuk anak memahami nilai-nilai Islam, bukan dengan memerintahnya saat dia baligh.tapi tanamkan kepadanya hal-hal yang islami dari kecil, maka saat dewasa, hal itu akan menancap padanya dalam. Dan aku terkadang heran, orangtuaku minim dengan pengetahuan agama, tapi kami, keempat anaknya mempelajari agama dengan serius, menutup aurat. adik2ku, tidak ada yg merokok. meski kami masih jauh dari nilai-nilai muslim yang ideal, tapi aku terheran-heran; bagaimana bisa jadi seperti ini dengan pengetahuan orangtua yang minim terhadap agama?�

saat aku bertanya, ibuku menjawab dengan mata berlinang, "Doa"

"Saat itu mama sadar tidak punya apapun untuk membesarkan kalian menjadi anak shalih. bahkan mama tidak begitu paham agama, tidak pintar ngaji, dan tidak memakai jilbab. tapi mama punya doa dalam tahajud tiap malam. agar Allah menjaga kalian, dan menjadikan kalian anak yang shalih. tak putus-putusnya mama berdoa tiap malam dalam tahajud. tiap ada tetangga yang haji, pengetahuan agama bagus tapi anaknya pakai baju ketat, pacaran...mama berdoa agar anak mama jauh dari semua itu."

Aku menatapnya dengan mata kaca. bagaimana kita bisa begitu bodoh mengabaikan kekuatan doa?

Aku hidup dengan keyakinan itu: doa. ya, hanya doa. karena usaha, ikhtiar lumpuh dan sia2 saat tdk dibarengi dengan doa.�

saat aku beranjak dewasa, aku menyadari realita dengan hal-hal fiktif yang kubaca di Annida dulu menjadi begitu berbeda.

Makhluk yang berlabel akhwat dan ikhwan bisa saja mengumpat, berpacaran, menjalin hubungan jauh dari koridor syar'i tanpa rasa takut pada Allah.

Berpolitik secara culas di belakang, lalu melabeli orang-orang yang tidak sepikiran.

Membentuk komunitas eksklusif berlabel: pejuang dakwah, tapi malah menjadi benalu yang menggerogoti dakwah itu sendiri.

Hingga aku muak dengan tempatku berada. Saat itu kawanku mengajakku bergabung dengan jamaah lain, Hizbut Tahrir atau sering disingkat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).

"Beda de," kata Putri, temanku itu." Lebih konsisten terhadap Islam dan dakwah, lebih terhijab, lebih punya sikap. terutama untuk menegakkan harga diri umat melalui khilafah."

Aku manggut, lalu mencoba menempuh jalan lain. tetap di jalan dakwah. hanya mengganti pakaianku dengan jubah panjang yang saat itu kuyakini jilbab yang sebenarnya. Saat itu aku baru masuk kampus, dan di kampus yang kuat dengan nilai-nilai dari jamaah tarbiyah, keterlibatanku dengan HTI dianggap dosa. Suara-suara sumbang mulai kedengaran di sekitarku. tapi aku cuek, aku sedang mencari kebenaran, tidak hendak melakukan sesuatu yang salah.

Hanya, aku masih gamang tentang jalanku. di satu sisi, pergerakanku di dakwah kampus belum mundur, tapi aku mengikuti HTI meski lambat. rasanya seperti meletakkak 2 kaki di 2 jalan yang berbeda. seperti nasihat seorang kakakku,"Semua menuju tujuan yang sama, hanya kendaraan yang dipakainya berbeda."�

aku setuju, dan aku sadar aku tidak bisa naik 2 kendaraan yang berbeda dalam satu waktu. maka aku harus memilih. dan saat itu sesuatu datang dan mengacaukan pikiranku,

"Jangan memecah belah umat." Nasehat itu menusuk ringan.

Dan apa yang kulakukan sekarang termasuk memecah belah umat? Aku berpikir dan berusaha mencerna. Saat itu aku melihat begitu banyak golongan dalam Islam., saling menuding, mencurigai, mengklaim mesjid sebagai milik jamaah mereka,...untuk apa? aku setuju jika yang dilibas adalah golongan yang benar-benar telah mengingkari Al-Qur'an dan Hadits seperti Ahmadiyah. tapi mengapa harus bertengkar jika karena beda penafsiran? Bahkan para sahabat saat masa Nabi punya perbedaan dalam membaca Al-Qur'an dan masalah-masalah ibadah.

Saat itu aku hanya ingin keluar dari semua. aku tidak ingin memecah belah agama ini.

Aku kacau, halaqah jadi terasa tawar, amalan sunnah berantakan, yang wajib setengah hati. aku disorientasi!

Hingga aku berdoa pada Allah, doa yang sederhana saja. aku hanya minta Ia menunjukkan jalan. jalan mana saja, asal mendekatkanku padaNya.

Dan Allah menjawab doaku. perlahan-lahan aku kembali ke jamaah yang dulu. kembali ke dakwah di dunia kampus yang penuh dinamika. aku tdk punya masalah dengan HTi, aku respek dan mendukung perjuangan mereka menegakkan khilafah.,hanya aku mendukung mereka dari tempat yang berbeda.

Hingga saat lain datang, aku berkenalan dengan teman-teman dari Salafi, golongan sekuler, bahkan yang liberal (yang dulunya aku sangat antipati). Aku mengerti sedikit-sedikit tentang cara pandang mereka. berusaha bersikap toleran tanpa meninggalkan prinsipku. juga dengan orang yang berbeda agama. Lakum dinukum waliyadiin...�

Dari semua perjalanan ini, mungkin tidak semua bisa kuceritakan. tapi jika ada yang bertanya kepadaku tentang alasan aku memilih jalan dakwah ini , aku ingin menjawab, bahwa aku memilihnya dengan pencarian. aku tidak dicekoki, dipengaruhi, diajak, atau apapun. tapi aku mencarinya, mempelajarinya dengan teliti, dan juga mempelajari hal-hal lain tentang golongan-golongan lain. aku memilih, tidak sekedar menunggu untuk dipilih.

Dan masalah kecewa, aku berkali-kali dikecewakan di jalan yang aku pilih ini. tapi karena aku mengerti, dan bukan sekedar masuk, aku tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk pergi, tapi untuk berbuat.

Apa aku berhenti?

Hei, tidak! aku masih mencari. Dan pencarianku akan kebenaran, akan selalu ada. selama hati ini masih dapat direndahkan hingga serendah-rendahnya.�

Satu nasehat untuk pencari kebenaran: rendah hatilah. sebab kebenaran tidak akan berlabuh di hati yang tinggi. dan yang terpenting, jangan lupakan DOA. sebab doa, adalah bukti kerendahhatian seorang hamba

"Ya Allah...dekatkan aku dengan orang-orang yang mendekatkan aku padaMu, dan jauhkan aku dengan orang-orang yang menjauhkan aku padaMU."

Gambar dari: http://www.panhala.net/Archive/seek%20patience.jpg

Jumat, 13 November 2009

setelah 20 tahun

Kata Raditya Dika orang-orangan, kalau mau ngeblog tulislah perasaan yang paling kuat yang kamu rasakan (dia dapat dari kata 'orang', jadi dikutip dari Raditya Dika dan orang-orangan).

sedang kata Ferdiriva Hamzah,"yang penting jadi diri sendiri aja, jangan jadi orang lain."

Menggabungkan dua nasihat bijak dari penulis cerita lucu ini, aku jadi ingin berbagi perasaan. sedikitnya, menulis untuk membagi perasaan itu sangat mententramkan. aku tidak suka curhat panjang lebar dengan orang, jadi ini jalanku untuk curhat.

simplenya, aku jatuh cinta

dan itu benar-benar simple, sehingga menjadi sesuatu yang memalukan untuk diceritakan pada orang lain, karena jatuh cinta itu simple, seperti nasehat-nasehat yang sering kita dengar dalam hidup, jangan bicara dalam ruang kuliah, jangan menikah dengan orang pendek, perhatikan kebutuhan gizi anak,hehehe...jadi bawa-bawa masalah kuliah.

yang jelas, cinta bagiku sederhana saja. jatuh cinta biasa,semuanya biasa. bukan jatuh cinta dengan orang yang biasa. sebab bagiku jatuh cinta itu frase. tidak perlu objek tambahan di depannya.

"Jatuh cinta dengan siapa?"

pasti itu kalimat yang akan keluar saat aku menceritakan hal ini pada seorang teman. dan aku ingin menjawab sambil tersenyum ringan.

"Tidak tahu."

Ya, aku jatuh cinta. tapi tidak tahu pada siapa. yang jelas, aku merasakan perasaan ini tanpa tahu objek yang mendapatkan cinta itu siapa. tapi aku menikmati tiap sensasi, saat jatuh cinta, tak perlu tahu siapa, dimana, bagaimana. cukup menikmati perasaan cinta dan semangat yang dibawa bersamanya.

aku jatuh cinta, pertama kali setelah 20 tahun!

tanpa tahu pada siapa:)

well.. mungkin inilah cara cinta yang horizontal itu bekerja. karena mencintai menjadi mudah dan sangat sederhana.

Rabu, 11 November 2009

Kerinduan Kecil

hal-hal yang sedang kurindukan sekarang, sederhananya adalah hal-hal yg tidak bisa kudapatkan. karena waktu mungkin, atau kesempatan, aktivitas, dan hal-hal lain yg benar-benar membuatku jauh.�

waktu kuanalisis, 5 hal yang paling kurindukan:

1.menginvasi perpustakaan di aceh. kadang dulu, waktu aku masih pelajar, atau mahasiswa yang hanya punya waktu untuk sekolah, di waktu senggang yang sangat banyak itu aku akan mendatangi perpustakaan yang kutahu. kdang iseng aja jalan, terus ketemu pustaka atau taman baca. lalu aku netap disana seharian. i addicted to book!!! sampai sekarang masih addicted, dan hanya di pustaka yg bisa membuatku PUAAAAAAAAAAAAS

2. menatapi kekosongan sesaat; laut, pohon, semut yg berbaris

3. mempelajari manusia; mengamati, mencatat

4. manjat pohon hingga pucuk tertinggi; ini sudah hilang lama,sejak aku berjilbab.bukan jilbabnya sih masalahnya, melainkan karena pohonnya udah g bisa dipanjat lagi.hehehe

5. bicara dengan orang yg gak dikenal di jalan-jalan; tukang parkir, pengemis,..belajar dari kehidupan sebenarnya


hal-hal sederhana, tapi begitu mahal sekarang. karena aku sibuk mengurusi begitu banyak hal untuk kepentingan orang banyak,meski agak kesepian,tp aku hanya ingin mengingat satu hal: semua ini untuk Allah, kesepianku juga.

Dan aku yakin, suatu saat segala hal yang kurindukan ini akan kudapatkan kembali. Insya Allah...


Selasa, 20 Oktober 2009

dengan apa lagi harus kunyatakan cinta?

Allah...

bahkan dengan bahasa cintaku yang paling sederhana

ingin kuterjemahkan segumpal rindu ini padamu

gumam tanya, gaung sonor di ruang surau

dengan bentuk sesederhana apa cinta ini harus kusuarakan?

Bahkan hampa, gelisah saat memandang

sederet manusia, bertahta di warung kopi hingga petang membayang dan adzan memenuhi negeri dengan suara lelah,akan panggilan yang diabaikan

lalu dengan bahasa cinta apa akan kuisyaratkan rindu untuk serambi mekah?

ia mulai karam

saat aku memandang pintu mesjid, surau, mushalla,langgar

aku terkesiap,sebab daun pintu, jendela, bahkan mimbar mulai berdebu

maka dengan bahasa cinta mana lagi akan kunyatakan?

atau bahasa cintaMu, bersama tasbih ombak yang menggunung

lebih menyentuh hati para pecinta

dan aku, tidak lagi punya puisi cinta untuk disentakkan

hanya doa dan satu pinta

suatu hari kelak, hanya ayat-ayatMu yang menggema,

yang mampu mengalahkan kepulan asap rokok dan tawa yang menggema Maghrib...

Sinergi dan Keterpisahan

Sinergi, mungkin tidak perlu didefinisikan. sebab kita semua (mungkin) punya kamus bahasa indonesia yang disusun oleh para ahli, dan mereka mengerti dengan tepat apa itu sinergi, pemakaiannya, bahkan sifat dan bentuknya. hingga penggunaannya dalam kalimat; sinergikah engkau? yah, ini kalimat yang salah

Satu hal yang kupahami dari sinergi, adalah bahwa sinergi adalah suatu proses penyatuan keping keping yang tidak sama, tapi saling bersesuaian.seperti yin dan yang, kepingan puzzle, bumi dan langit. panas dan dingin...

semuanya bersinergi. saling memberi dan menerima, lalu mendatangkan energi. sebagaimana angin yang terbentuk dari perbedaan tekanan udara; satu tinggi dan satu lagi rendah, harmonika waktu yang terbentuk dari siang dan malam, bayi; penyatuan sperma dan ovum... semuanya adalah sinergi, yang melahirkan keselarasan, keseimbangan, dan keindahan.

lalu, untuk apa bertahan menjadi sesuatu, atau bergabung dalam apapun juga, jika tidak ada sinergi didalamnya? sinergi, memberikan warna bagi persahabatan, sebagaimana kuning benang sari di antara merahnya mawar. lalu saat tidak ada kesinergisan lagi, hilanglah semua.

saat pertama kali aku bergabung dengan FLP, aku tidak melihat apapun, kecuali satu: kesempatan untuk mencapai suatu kesinergisan. Aku berharap unsur kegelapan (gak jelas nih) dalam tulisanku akan bertabrakan dengan cahaya di rumah cahaya, dan akhirnya: SINERGIS.

tapi tidak, mungkin sekarang, TIDAK LAGI.

cahaya itu ada, kutemukan dalam tiap wajah-wajah tersenyum di dalamnya. bahkan dalam keakraban, dan tawa. Tapi kesinergisan? tidak lagi. aku berusaha, tapi kesinergisan adalah ttng dua unsur, dan itu, bukan denganku.

hanya untukku, mungkin.

Hingga aku menjauh, berharap suatu saat nanti, aku akan menemukan warna kesinergisan itu kembali, di rumah cahaya berhias senyum itu.

>Kamu akan kembali?

jika Allah mengijinkan, ya...

*sebuah penjelasan untuk sahabat2ku, atas kealpaanku yang telah kerap berulang. maafkan aku yg tak mampu bicara dngn bahasa lisan

Jumat, 16 Oktober 2009

Tentang Maaf


Mungkin kalau dia tidak bicara seperti itu, aku tidak akan ingat,
"Lupakan..." lalu kuturuti. aku melupakan, meski tidak sepenuhnya. hanya hatiku tidak mau memaafkan.Belum...
***
"De, memaafkan bukan berarti melupakan." satu nasihat yang berbeda saat kami duduk di atas bebatuan, menatapi batas laut sambil merasai air laut menjilat kaki hingga ke betis.

Aku menatapnya."bukankah forgiving is forgetting?"

Dia menggeleng,"Tidak selalu. Bahkan melupakan tidak berarti memaafkan."
Aku tertunduk, mengapa begitu sulit?

"Menurutmu, aku bisa?"

Dia menatapku, dalam hingga menyelami rasa ,dan dia hanya menyatakan satu kalimat yang membuat ombak yang menari-nari membasahi rok kami menenggelamkan hatiku,"Kamu pasti bisa De. jutaan orang bisa,kenapa kamu enggak? bahkan, kamu telah berhasil melewati semuanya sejauh ini."

"Menurutmu aku harus?"

Dia tidak segera menjawab, hanya merapikan roknya yang berantakan tertiup angin laut,"Tentu saja kamu harus de.Semua orang juga harus. Hanya saja, keharusan itu untuk dirimu, bukan untuk siapapun. Bahkan bukan untuk orang yang kamu benci. Itu untuk dirimu: ketenangan, dan kebahagiaanmu sendiri."

Aku menatapinya, dia, yang selalu membuatku salut dengan kemampuannya melewati badai. Bahkan sejak kami SMA, dia masih yang terbaik dengan ketenangan dan ketabahannya. Dia adalah sumber telagaku.
"Lalu kamu, akan kemana?"

Dia menjawab mantap, seolah kalimat itu telah lama menunggu untuk dimuntahkan, "Aku akan menikah De. Akhirnya, aku bisa bebas."

Kutatapi dia, tak mampu menyiratkan apapun;takjub. Usia kami sama. dan bahkan saat aku masih bergelut dengan kekonyolan-kekonyolan seorang remaja di usia menjelang 20, dia telah siap menutup lembar kesendirian dengan seorang pangeran di sisi. kutatap dia lebih teliti, tak ada keraguan dan kecemasan di bola matanya.
"Bagaimana kamu bisa begitu siap?"
Dia tersenyum, merapikan helai-helai rambut yang melompat-lompat dari balik kerudungnya."Ade, kamu tidak akan mengerti. Karena situasi kita berbeda. jika kamu di posisiku, kamu akan mengerti." Dia terdiam, "aku ingin bebas..."

Aku tersenyum. Kembali, kami menatapi ombak yang kian mengganas di penghujung siang. meski hatiku masih tergelitik dengan beragam hal, tapi hanya dengan kehadiran seorang sahabat yang dipersatukan dengan doa, membersamai dzikir ombak, semuanya menjadi bening. mengaminkan harapannya diam-diam. Allah...bebaskan dia.

aku merasai mataku hangat, meski bukan bermakna sedih. tapi lega yang tak bertepi

Akhirnya, aku siap memaafkan...

*Kenangan di Pantai uleelhe itu, bahkan aku tidak perlu kamera untuk mengabadikannya. Moga berbahagia, sahabat. Barakallah...

Sabtu, 03 Oktober 2009

karena tulisan adalah sayap hati


banyak yang kudapatkan,banyak juga yang kulupakan
mungkin hal paling dasar yang kulupakan tentang menulis, ngeblog
adalah tentang sebuah mimpi untuk
menyentuh hati manusia

ya, saat pertama kali aku menulis
lalu membuka blog
aku ingin menulis
merangkai sejuta kata dalam rangkaian kalimat, yang mampu menyentuh hati manusia:

membuka hati yang tertutup
menyembuhkan hati yang luka
menyatukan keping hati yang patah

karena tulisanku adalah penyambung sabda Ilahi
aku ingin semua dapat membacanya
mengenal dunia dalam diri mereka sendiri
karena itu aku tidak mengurung istana aksara ini hanya dalam diary

begitu indah terangkai niat saat pertama kali aku mencoba menggerakkan jari merangkai kata
mengukir makna
hingga aku terlupa
aku putus asa
menganggap aksaraku alpa dari menyentuh dinding hati

hari ini
seorang saudaraku mengingatkanku

karena hatinya telah tersentuh asa
oleh rangkaian alpabet yang mungkin telah terlupa
tentang sebuah negeri utopis yang bernaung damai

terima kasih...
telah mengingatkanku kembali

NB: makasih mbak nisa,your word inspired me again

Jumat, 02 Oktober 2009

Negatif

hari ini, aku bertanya: sudah sejauh mana perjalananku?

Jujur, terkadang aku lelah. lelah menjadi orang yang selalu dipandang baik, lelah menjadi orang yang selalu dilihat lekat oleh orang lain,"Gak pernah marah ya? bisa marah?"

Lelah.

Aku tidak selalu baik. juga bukan tipe orang yang mau pura-pura baik. aku selalu tampil apa adanya. atau setidaknya selalu berusaha

Tapi terkadang aku lelah.

Aku lelah tersenyum, lelah bersikap positif, lelah menebar kebaikan

Terkadang, aku kembali tergoda untuk bersikap radikal, revolusioner, pemberontak.

Di dunia dakwah kampus, aku tergolong manusia pemberontak.

bukan dengan kata-kata memang, aku tidak menyebutkan pemberontakanku dengan apa yang dapat kuucapkan, keterusterangan.

Tapi aku muak pada tingkah laku orang yang menjual simbol. bukan jenggot, jilbab lebar hingga menutupi betis, atau bahkan kata salam yang menjadikan kita muslim sejati, manusia sejati.padahal hijab itu hanya dipakai di dalam mushalla, sisanya berterbangan dalam kalimat menggoda, tawa, dan kemesraan berselimut.

membatasi aktifitas, menutupi diri dari ilmu lain,"Baca apaan tuh! mendingan baca Al-Qur'an."

That's right, tapi tepatkah tindakan menutupi diri dalam mencari ilmu? Bhkan Hudzaifah bertanya tentang keburukan disaat sahabat lain bertanya ttng kebaikan.

Ahhhh,....

bukankah ukuran keshalihan adalah ukuran Allah? Pembeda yang didapatkan bukan dengan mencari nama di mata manusia. bukan dengan ukuran itu.

aku salut, respek dengan orang-orang yang melabeli dirinya sendiri 'brengsek',bangsat, dan tidak mau dianggap baik, karena label 'baik' itu menjadi beban, berhala bagi diri sendiri.

aku tidak mau dianggap baik

aku/ana/gue/saya adalah manusia biasa

bahkan saat aku lelah, aku ingin jadi manusia

"De, kamu baik banget ya."

StOP IT!

aku tidak perlu itu, bahkan tindakan menjudge itu,"ngapain gabung di CIMSA? anak2nya aneh gitu."

yeah, i see.

But the fact, i seek for a real human, and i believe, they are everywhere. Manusia malaikat itu tidak hanya terkurung di tembok-tembok mesjid. mereka bisa ada di manapun.bahkan di warung kopi, tempat penjagalan, bahkan di sudut jalan tempat manusia makan manusia untuk hidup.bahkan di CIMSA sekalipun.

Aku selalu percaya itu.

Karena aku telah melihat beberapa diantaranya. Dan mereka, tidak mengurung kebaikannya di tembok mesjid, dan melempar kejahatannya di luar tembok untuk dikenakan kembali saat perlu. Tapi mereka menemukan itu dalam diri mereka, dan melemparnya ke sekeliling mereka, hingga menemukan fitrah yang sesungguhnya.

"Bengu lo."

It's better for me, setidaknya, tidak perlu berpura2 positif.

Gw bengu, selesai kan?

Sabtu, 19 September 2009

Bicaralah

Karena aku menanti kamu bicara
bicaralah! apa saja
mungkin sebuah cerita
atau curhat
atau apapun itu

sebab telingaku selalu siap mendengarmu
tapi engkau, hening dari cerita
itu duka
bagiku

Rabu, 16 September 2009

Puisi untuk Perpisahan

Maafkan
untuk puisi-puisi yang tak kunjung selesai
dan kebersamaan yang akan usai

Maafkan
jika hanya kemengertian yang tak sanggup terukir
sedang persahabatan diputus takdir

Maafkan
jika hanya tanya
sedang jawab tiada

Maafkan
cinta di bawah rindang
tidak terefleksi sejernih bening

Maafkan
segenggam gumam yang berdengung
lisan berat untuk menggaung

Maafkan
bahasa cintaku yang sederhana
untuk dirimu begitu rumit tentangnya

Senin, 07 September 2009

Rain,De Javu, Me

aku suka hujan
aku juga suka melompat, meski tidak begitu suka berlari

tapi aku suka sekali melompat. tiap sangat senang, aku akan melompat2, tak peduli dimanapun aku berada, di situasi apapun, aku tak sabar untuk melompat
setinggi-tingginya
menikmati perasaan bebas tiap kali melompat
berharap dapat melompat lebih tinggi lagi

lalu, aku sangat suka berjalan
jalan-jalan bagiku memang berjalan
dengan kaki
tanpa kendaraan, hanya berjalan saja

dulu, saat masa-masa aku bukanlah orang yang tersibukkan dengan apapun kecuali sekolah, belajar, dan ngaji
aku suka mengisi waktu dengan naik kendaraan umum ke pusat kota
lalu jalan-jalan, tanpa tujuan
hanya ingin melihat manusia, berbagai macam jenis manusia di kota ini
ekspresi, cara mereka berjalan, cara berbicara mereka... aku mengerti satu hal
"Inilah dunia"

dunia bukan hanya tembok-tembok tinggi mesjid
kegaduhan kampus
kesunyian pustaka

tapi dunia adalah ini
tempat dimana jutaan orang berkumpul
berbagai macam manusia
dengan agama, rasa, suku, warna kulit...itulah mereka
itulah dunia

membuat aku mengerti, dan belajar

Satu lagi yang kusukai adalah hujan
berjalan dan hujan adalah kombinasi yang sangat cocok. saling melengkapi bagai potongan puzzle yang tidak ada pasangan lain selain mereka berdua
dulu, dalam memori terindah, aku akan berjalan. hingga hujan turun.
mula-mula rintik-rintik yang membentuk rinai seperti tirai
membentur tanah dan menguarkan bau khas bumi
lalu semakin lebat
menimbulkan bunyi seperti alunan musik yang menentramkan
suara gemerisik pohon ditiup angin
semua adalah dzikir alam yang sempurna

meski hujan semakin lebat hingga bahkan tidak menyisakan lapangan pandang yang cukup untuk aku menatapi, aku merasa itu adalah hening yang sempurna
tidak perlu mempercepat langkah, tidak perlu berteduh. hanya terus berjalan dan melompat, bahkan menari dalam hujan. tanpa ada yang melihat
tanpa ada yang memperhatikan
tidak memikirkan apapun, tidak takut kepada apapun selain Pencipta hujan ini

dan sekarang, kedamaian seperti saat-saat itu adalah hal yang langka
tidak ada hari sedamai itu tanpa hape yang bergetar
dengan amanah-amanah yang bertumpuk
dan aku kembali merindukan masa-masa itu

setiap hujan, aku menatapi jendela dengan pandangan rindu
tenggelam, melayang dalam de javu


Minggu, 16 Agustus 2009

Saat Mengingatnya

bukan hanya saat ini, jg bukan tiap saat kita berpikir tentang satu hal itu

Kematian...

menjelang Ramadhan kali ini, aku terkenang pada seorang teman...
aku ingat saat itu 2 hari sebelum tahun baru.
Jam menunjukkan pukul 8 malam,kami baru siap buka puasa bersama dengan teman2 lain
"De, pnjm bukunya. Insya Allah setelah tahun baru kubalikin."
Aku mengiyakan, berpikir bahwa kami akan kembali berjumpa seminggu setelah tahun baru.
Tapi buku itu tidak pernah kembali, juga dia.

Kabarnya ia sedang pergi bersama teman-temannya, di malam minggu. Motornya tertabrak truk, helmnya terlepas, kepalanya pecah.

Begitu sederhana, ia pergi.

Padahal saat itu usianya belum mencapai 18 tahun, baru kelas 2 SMA.
masih tertawa, mengejar banyak impian, menikmati hidup yang terlihat begitu sempurna

Toh itu semua tak mampu menahannya, ia tetap pergi

Well...
Kematiannya memukulku telak
mungkin karena ia satu-satunya teman yang lumayan dekat saat itu, yg meninggal dalam usia muda.
atau mungkin juga karena aku tidak pernah sebelumnya berpikir tentang kematian, masih baru saja menapaki hidup, dan realitas menamparku.

Dan hari ini, saat aku membuka blog Raditya Dika
tulisannya, "After The Funeral.." tulisannya mengingatkanku pada temanku itu, meski aku tdk pernah menghadiri pemakamannya.
He said,
"we're not invincible"

Not invincible
ya...kita dikalahkan, kita semua akan dikalahkan
oleh maut, oleh waktu, bahkan oleh diri kita sendiri.
kita bukan manusia super yang mampu melawan semua
kita tidak pernah menang secara sempurna

saat itu aku berpikir,
hidup memang bukan hanya sekedar berusaha untuk keabadian
atau berusaha untuk menikmatinya sepuas mungkin seolah hidup akan berlangsung selamanya
sama sekali bukan
Tapi hidup adalah perbuatan
waktu terbatas untuk melakukan sesuatu yang nyata, untuk dunia dan penyempurnaan pengabdian kepada Sang Pencipta
untuk menjadikan hidup yang limited ini menjadi unlimited dengan karya
hingga kelak ketika kita bertemu dengan kehidupan setelah ini, kita dapat menatapNya dengan kebahagiaan dan kebanggaan seorang hamba,

Dan kita, bisa tetap hidup melampaui kematian.
Mungkin kita dapat mengatakan, bahwa kita tidak dikalahkan oleh kematian.
Hidup setelah mati...
Life after life

Mungkin sebagai penutup, mari kita dengarkan sebuah quote dari Emma Bombeck,
"Saya ingin memanfaatkan semua potensi yang ada pada saya, semuanya. hingga kelak saat saya berjumpa dengan Tuhan, saya mampu mengatakan, "Tuhan, saya telah menggunakan semua yang kau berikan pada saya."

Selasa, 11 Agustus 2009

Lelah Menanti

saatnya sudah tiba,
untuk melihat pada hal yang benar.

Entahlah, tapi aku lelah berada pada penantian.
Selalu, tak berujung ke arah bahagia.
Sesekali, aku ingin melihat mawar merekah dari kuncup, mengamati kupu-kupu berhamburan dari kepompong, dan mengamati burung keluar dari cangkangnya.

Tapi penantian tak pernah pasti.
Sering mawar itu layu sebelum merekah, kupu-kupu itu tak pernah keluar dari kepompong yang mulai membusuk, dan telur itu pecah sebelum menghasilkan sesosok burung yang merdeka di angkasa.

lalu,masih haruskah ada penantian?

CUKUP!!!

Cahaya masih bersinar, degup masih terasa, siklus musim berlari
hidup harus berlanjut
terus
lagi

Sabtu, 08 Agustus 2009

Cinta? Pikirkan Lagi

Akhir-akhir ini banyak orang yang bicara cinta di sekelilingku. begitu indah, begitu mengagumkan, begitu memiliki keindahan.ada penghargaan, rasa sayang, kebersamaan, pernikahan disana.

maka, kali ini, tanpa bermaksd mematahkan semangat para pecinta, yang sangat kuapresiasi dengan kegigihannya memperjuangkan cinta, aku ingin berbagi sudut pandang yang berbeda


Hari ini, saat cinta menjadi topik utama, ada topik utama lain tentang tewasnya Noordin M. top yang belum terjawab; apakah ia pelaku atau korban?

Pada jam yang sama ketika lagu-lagu cinta berkumandang dari stasiun TV swasta, ada jutaan anak dilahirkan diluar nikah, lalu diaborsi, dibuang di panti asuhan, atau ke parit2,...juga atas nama cinta

Pada menit yang sama dengan engkau mulai memikirkan cinta, jutaan orang bergelimpangan di luar sana karena penyakit, perang, dan pembantaian massal.

Pada detik yang sama saat engkau membaca tulisan ini, jutaan orang yang sibuk dengan cinta menjadi korban atau suspek penyakit kelamin, HIV/AIDS, KTD (kehamilan tak diinginkan)

Jadi, bicarakan cinta. lalu lihat, cinta yang bagaimana yang engkau bicarakan?
Think it!

Jumat, 31 Juli 2009

Salahkah Mencintainya?

Aku mencintainya, salahkah?
Dan rasanya selalu ada yang salah
Seharusnya
Ya, harusnya tidak ada yang salah
Aku tetap di jalanNya, jalan kupu-kupu

Tapi jalan ini bukanlah setapak menuju laut lepas dan langit biru yang mengobati semua haus

Jalan ini adalah jalan kesturi yang bertabur duri tajam, yang bahkan jika duri itu dapat tercabut dari kedalaman daging, perihnya akan menetap menjadi borok nyeri


Hingga aku tersandung, meski Dia tetap menarikku berdiri kembali, menyuruhku tetap melangkah

Aku tetap ingin di jalanNya Makanya, aku menarik teman-teman bersamaku

Tapi mereka tidak mau ikut


Aku takut, bahwa aku tertinggal

Menatapi jalan gurun dan jingga yang membayang di jalan yang begitu lurus hingga ujung dan pangkalnya tidak membias kecuali dalam satu titik

Sendiri, hingga aku berpaling

Jalan kupu-kupu tidak memanggilku,

Bahkan bukan aku!


Bukan!!!


Lalu wajahnya begitu memikat dengan pesona


Padahal bukan wajah cahaya yang kucari


Bukan dia


Bukan aku


Masih begitu jauh, hingga perasaan nyeri ini menemukan pembungkusnya

Damai selamanya

*Catatan hati saat rindu menggetarkan ruang jiwa. moga tetap dalam penjagaanNya

Gambar dari: http://www.nccg.org/confuse.gif

Sabtu, 04 Juli 2009

Mencari Spirit Penyembuh yang Hilang

Dokter, mungkin bukan sekedar profesi. Di masa lalu, dokter adalah dewa yang dihormati. Di masa kini, dokter tetap dewa. Tapi dewa yang dapat dipersalahkan, dapat dituntut, bhkn dijebloskan ke penjara saat melakukan kesalahan fatal: malpraktek

Patch Adams dalam bukunya yang juga berjudul Patch Adams, menyebutkan beberapa masalah kedokteran modern, diantaranya; terlalu kaku hingga anti humor, tidak mau menjalin kedekatan dengan pasien secara emosional, tidak ada tempat untuk basa-basi, menjadi dewa hingga berjarak dengan para staf di dunia kesehatan (perawat,staf administrasi,dll), terlalu dikhawatirkan dengan masalah penyakit dan malpraktik hingga menganggap pasien bukan lagi manusia, tapi hanya suatu atau kumpulan penyakit, mementingkan efisiensi dalam dunia jasa seperti mesin, uang diatas manusia, hingga sistem pendidikan kedokteran yang tidak mampu mencetak dokter yang bekerja dengan 'hati'.

"...tragisnya kami sebagai mahasiswa sedikit demi sedikit dicetak menjadi dokter yang menurut saya tidak berperikemanusiaan. Staf rumah sakit tidak dirancang untuk bekerja sama sebagai tim untuk menyembuhkan penyakit. Dokterlah yang dianggap tahu semua jawaban dan memerintah orang-orang di sekelilingnya,sering kali dengan kasar. Pemikiran semacam ini-dokter sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan pasien-MERUSAK karena menanamkan keyakinan, pada mahasiswa dan dokter, bahwa dokter memiliki smua jawaban. Tidak ada ruang untuk kerendahan hati atau kesalahan." (Patch Adams)

Lebih lanjut, Patch mengkritik sistem koas yang menurutnya tidak berperikemanusiaan. Serombongan orang berbaju putih menyerbu satu pasien yang ketakutan. Ssehingga dia menolak untuk melakukan kunjungan secara eksklusif, tapi memilih untuk mendekati pasien secara personal, dekat dengan mereka, hingga ke pijitan lembut sebagai bahasa kasih non verbal.

Saya tidak tahu bagaimana dunia koass di Indonesia. Juga dunia kedokteran yang sesungguhnya, karena status saya masih mahasiswa, tapi patch tahu. Dan jika memang dunia kesehatan telah berkembang begitu menyesakkan, mungkin perubahan memang diperlukan.

Patch memilih perubahan, tidak menunggu orang lain memulai untuknya. Maka didirikannya Gesundheit Institute, yang menyimpan semua harapan hidupnya akan sebuah hubungan kemitraan yang dibangun atas dasar persahabatan, kepercayaan, kegembiraan, hingga pengobatan holistik yang GRATIS! Dan untuk itu, Patch membayarkan seumur hidupnya. Untuk sebuah impian yang terlihat utopis,sebuah rumah sakit (mungkin lbh enak disebut hospital,rumah sakit berkesan negatif), yang dirintis dari tahun 1971 hingga 2009 ini dan belum selesai (38 tahun untuk sebuah impian!!!)

Patch, impian, dan bukunya sendiri adalah sebuah referensi yang bagus,teramat bagus untuk para dokter, mahasiswa kedokteran, dan masyarakat umum yang memimpikan sebuah pelayanan kesehatan yang berbasis hati. Kedekatan dokter dengan pasiennya yang lebih emosional, kunjugan penuh persahabatan.Terus terang, saya juga merindukannya...

Di Indonesia, adakah yang telah memulai mendobrak tembok ini???

Untuk menutup tulisan ini, saya quote kata2 Patch Adams, seorang dokter, badut, penghibur, dan pemimpi yang luar biasa:

"RAhasia hidup adalah memiliki suatu tugas, demi tugas itu kau curahkan seluruh hidupmu untuk mengerjakannya, demi tugas itu kau berikan segalanya, di setiap menit hidupmu sepanjang sisa hidupmu. Dan yang paling penting adalah, tugas itu adalah sesuatu yang TIDAK MUNGKIN Anda kerjakan" (Patch ADAMS)

*gambar dari:

Senin, 22 Juni 2009

MencariNya dengan Sederhana

Aku pernah duduk dalam sisi tergelap hidup
Benar-benar gelap
Tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan dangkal tentang apa itu Tuhan, darimana manusia berasal, apa itu agama, kedangkalan-kedangkalan dari manusia bodoh
Saat benar-benar tidak tahu arah tujuan
Pilihanku hanya dua:
menjadi orang yang terbuang atau mati


Lalu Allah menyelamatkanku...

Dengan caraNya yang indah dan menakjubkan, Ia menyelamatkanku dari kegelapan pikiranku sendiri.
Diajarinya aku bahwa kesederhanaan selalu lebih baik
Bahwa untuk mencariNya tidak perlu bergaul dengan setan, berdoa sudah cukup
Dia memberitahuku bahwa kerendahan hati dalam menyikapi pemahaman akan Al-Qur'an dan hadits jauh lebih baik dari sikap sombong dan tak acuh
Diberikannya aku kepolosan akal dan jiwa yang jernih
Lalu dilepaskannya aku dengan cintaNya

Dalam sekejap, aku mulai kembali merangkak, seperti bayi kembali
Belajar bahwa dunia hanya sementara
Bahkan kematian tidak seburuk yang terlihat
Tentang manusia, pemikiran, kesombongan, dan keinginan2 mereka
tentang thagut, konspirasi, politik...
Dan Ia mengajariku untuk tetap tegak saat yang lain terjatuh
Ia membelaiku saat aku ketakutan dan lelah, dengan ayat-ayatNya dan keajaiban kecil dalam hidup setiap harinya
Aku hanya perlu mendekatiNya dengan cara yang mudah, bahkan tidak perlu biaya

Ia begitu mencintai dan menjagaku...

Hingga aku tahu bahwa aku akan baik-baik saja tanpa siapapun, cukup dengan Dia saja
Dan bahwa keinginan serta pilihanNya akan hidupku adalah yang terbaik
Betapapun hal-hal itu terlihat buruk bagiku

Saat ini aku berpikir: apakah Ia mencintai manusia lain sebaik mencintai diriku?
Saat aku melihat ke sekelilingku, aku takjub melihat begitu banyak cintaNya pada dunia di sekitarku
Bahkan pada orang-orang yang tidak menyadari dan tidak mau mengerti
Dan Dialah: ALLAH


Thanks for the Life, and All parts of Life, Allah...

Jumat, 19 Juni 2009

Menangislah Sendiri

Kamu pernah sedih? tanya seorang teman.
Saat itu aku terdiam sejenak, lalu tersenyum simpul.
Emang gak pernah?
Dia terdiam, gak pernah keliatan

Dan senyumku semakin lebar.

Tidak pernah kelihatan bersedih
Tidak pernah terlihat
Tidak pernah

Adakah seseorang yang tidak pernah bersedih?

Kalau aku jarang sedih, itu salah.
Tapi kalau aku jarang terlihat sedih, benar.
air mata, bagiku tidak perlu diekspos, biarlah kesedihan dan aliran air mata hanya kesunyian

Terkadang aku heran, betapa mudahnya aku tersenyum, bahkan tertawa, sedetik setelah menangis.Dengn wajah full smile, aku seolah tak pernah punya detik untuk air mata. mengapa? bukan karena aku berjiwa baja. Tapi tangisan, kesedihan, selalu diwarnai kesendirian.

"Tertawalah, karena dunia akan tertawa bersamamu
Jangan bersedih karena kau akan bersedih sendirian"

Aku tak mau sendiri, mungkin itu sebabnya.

Jumat, 12 Juni 2009

Saat Ingin Menangis

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

(Sapardi Djoko Damono,�Pada Suatu Pagi Hari)

Ini bukan sebuah review, tapi saat memandang gerimis yang turun rintik-rintik, di saat pikiran sedang dirundung banyak masalah yang seolah tak ada habisnya; mulai dari masalah akademis, karier, asmara, yang selalu ada dalam ramal-ramal mbok lauren itu,menjadikan diri ingin menangis.

Sebab air mata, adalah satu-satunya hasil ekskresi yang tidak menjijikkan.

Saat kehidupan begitu terhimpit dengan masalah, menangis pelan-pelan sambil berjalan di suatu tempat sepi dalam nuansa gerimis, adalah suatu kenikmatan yang langka.

Ya, sangat langka.

Karena bumi seolah telah disesaki manusia, hingga mencari momen dalam keindahan ini, terasa bagai peer yang begitu sulitnya.

ah, saya jadi ingin menangis. sayang, tidak gerimis di sini. Hingga begitu banyak orang yang bertanya,"Kenapa?"

Padahal terkdang menangis tidak butuh alasan.

Maka, jika sahabatmu menangis, jangan tanyakan apapun padanya. Biarkan dia mengakrabi keheningan bersama air matanya sejenak.

Agar ia tidak mengharapkan gerimis saat bersamamu.

Lagi-lagi, saya ingin menangis, tanpa perlu mencari lorong sepi di suatu pagi gerimis...

Jumat, 29 Mei 2009

Perenungan 20 Tahun Cinta (khusus cewek)

Assalamu'alaikum sahabat

Ijinkan aku mengisahkan sebuah kisah,tapi kisah ini biarlah hanya milik kita

Para kaum perempuan, yang biasanya selalu saja menjadi objek dari kisah serupa

***

Aku mencintainya, dia?

"Aku mencintainya,sungguh!"

Kubiarkan ia menumpahkan tangis. Lama sekali isaknya baru berhenti. Setelah satu dua isaknya mulai mereda, ia menceritakan kisah sedihnya.

Ra namanya, gadis ini bukan tipikal gadis pada umumnya. Dia tegas, terkadang agak nyelekit, dan punya pembawaan agak galak. Tapi ia tak pernah kosong dari pernyataan cinta, pernyataan cinta yang akhirnya membawa luka mendalam, saat orang yang dia cintai...

"Meninggalkanku untuk cewek lain!"

"Dia mencoba menciumku, di kamarnya! setelah itu entah apa yang akan dia lakukan. aku langsung kabur!"

"De, aku gak tahan lagi, mau mati aja!"

Aaah...Luka. adakah luka yang sengaja dicicipi? Setelah lama, ia tetap menjadi seorang yang selalu mencicipi jamuan luka, entah sampai kapan.

***

Sayang, jangan lakukan itu ya

Gadis itu manis. Dan saat melihatnya menumbuhkan perasaan sayang. Dia seperti adik perempuan yang tidak pernah kumiliki, manja dan sangat haus perhatian. Terkadang kami sering jalan bareng, jajan ataupun berbicara dengan bising tentang aktivitas kuliah yang bejibun. Tidak sering, tapi ada.

"Re, makan es krim yuk!" ajakku satu ketika.

Ia menatapku, lalu sosok itu muncul,"Jangan, nanti kamu sakit!" katanya pada Re.

Aku menatap Re, menunggu jawaban darinya. Tapi seperti hari-hari biasa, Re hanya manut. hingga ia dan lelaki itu pulang beriringan.

Bukan cuma sekali ini, betapa sering kejadian serupa berulang.

"Sayang, nanti gak usah masuk ja. tuh, si Dian juga gak masuk."

"Ngapain kamu ngobrol ma dia?" saat Re berbincang dengan seorang kawan cowok.

"Mau kemana? Aku ikut." saat aku mengajak Re ke suatu tempat.

Dan lagi-lagi Re menurut. Selalu menurut.

Sungguh, aku saja lelah melihatnya. selalu ada laki2 itu dalam tiap hal yang akan Re lakukan. Melarangnya, memerintahnya...bukan menasihati, tapi itu sebuah komando. jelas bagiku, jelas bagi Re.

Padahal, siapa dia?

bukan orangtua, saudara, guru, suami, ataupun wali Re. Hanya seorang "teman dekat" yang merasa Re miliknya!

Sungguh, betapa memuakkan.

***

Maukah kau memaafkanku?

Aku sudah lama mengenalnya. Persahabatan kami seolah memakan waktu yang sangat panjang. Meski kami telah terpisahkan oleh jarak dan waktu, tapi dia tetap muncul di beranda pikiranku, dengan membawa satu nama yang sama: Frans.

"Pa kabar, Ri?"

Satu kalimat memicu sederetan paragraf. semua tentang Frans. yang selalu saja menyakitinya, putus sejenak, lalu pacaran dengan cewek lain. tentang Frans yang menjadikan dirinya laiknya cadangan,setelah putus lagi dengan pacarnya yang entah keberapa itu akan meminta maaf, lalu kembali padanya.

Ya, semua tentang Frans.

Kutarik nafasku, melonggarkan ruang yang terasa sesak.

Frans Frans Frans

"Mengapa kamu selalu kembali padanya, Ri?" kutanya ia

"Entahlah, tapi...aku merasa gak mungkin lepas darinya de."

"Mengapa kamu begitu mudah memaafkannya?"

"Mungkin gak semudah yang terlihat, tapi aku cinta sama dia."

Cinta cinta cinta

Duhai Allah, sudahkah Kau jadikan cinta itu begitu usang,

hingga bahkan kami harus menjadikan diri kami objek siksaan untuk sekedar mencintai?

***

Ini, bukanlah kisah tentang penindasan kaum laki2. Bukan juga kisah tentang ketertindasan kaum perempuan.

Tapi ini adalah kisah yang mengajak kita merenung, sudahkah cinta kita di jalan yang seharusnya? Jalan yang menjadikan kita berbahagia dalam kedamaian. Jalan yang membawa kita pada jalur ilahiyah.

tidak seperti cinta Ra, Ri, dan Re

Tapi cinta yang lebih indah di dunia ini

juga di akhirat, mungkin

Senin, 25 Mei 2009

Perangko Membawa (Potensi) Maut

Terkadang, dalam hidup kita telah melakukan sesuatu dengan penuh daya upaya. begitu keras berikhtiar, dan di akhir ikhtiar itu...

malah gak dapat apa2

benar2 gak ada apa2

gak ada hasil, gak ada penghargaan, gak ada apapun

Dalam hidupku, berkali2 aku mengalami peristiwa seperti ini. ada mungkin 2, 3 kali,...

setiap minggu,

sepanjang hidup:)

tapi gak ada yang lebih gemesin dari suatu momen

***

Waktu itu kan aku mau ngembaliin KRS (yang pernah jadi mahasiswa tahu dong). awalnya senang aja, trus ceria sebab bisa ngembaliin tepat waktu (biasanya telat seminggu, udah kena marah baru inisiatif balikin, hehehe). periksa map: krs udah, khs oke, foto beres, fotocopy terlampir, kemplang siap makan.

Oke.

Jadi, dengan segenap semangat penjajahan terhadap birokrasi aku berangkat ke SBAK (baca: gdng admin), dan rupanya yang jaga,OOo...pegawai yang terkenal agak jutek di kalangan mahasiswa.

Tarik nafas, satu dua

tiga empat

sampai SBAK tutup (enggak deh)

setelah menenangkan diri sejenak, aku langsung menghampiri pegawai jaga tersebut,

"kak, balikin KRS"

Ia menatapku tajam, sejenak kami saling pandang2an (stop! bukan mahram!)

"Tuh, baca dulu syaratnya"katanya tajam.

Sebenanrnya aku ngerasa gak perlu, syaratnya udah lengkap semua kok. hingga ke baris 4: PRANGKO 3000 UNTUK DALAM KOTA DAN 5000 UNTUK LUAR KOTA

Glek,

"Kak, kalau rumahnya dekat boleh gak pake prangko? Prangkonya untuk ngirim KHS ke ortu kan?"

"Gak bisa," jawabnya singkat, pendek, dan bikin jerawat bermunculan karena kesal.

Dengan geram, marah, dan kecewa binti gondok aku keluar dari ASBAK. tidaaak!

"Udah, gak usah teriak2, beli aja terus prangkonya." kata temanku yang penyabar dengan muka simpati as

aku mau jawab, tapi gak sanggup ngomong apa2 lagi karena mendadak asma kambuh saking sebalnya. dengan kemarahan memuncak aku berlalu. huh! harus keluar kampus lagi untuk beli prangko, mana ujian udah dekat, buang2 waktu aje! (ceritanya ngedumel dalam hati nih)

"Ade! Ade!"

Aha! siapakah itu yang memanggil2? dengan tampang bersinar dan H2C (harap2 celingukan) kau menoleh, teman penyelamat! selanjutnya disebut TP

TP: ade, udah balikin KRS?

Aku: belum (lemas), gak ada prangko

TP: sama, aku juga belum nih,mau beli dulu

Aku: tring! bareng yuuuk!

Dengan penuh kebrutalan aku naik ke motornya TP. awalnya siap dibonceng, tapi entah kenapa TP minta aku yang bawa motornya, takut kejungkal karena bwa paus mini kali. No Problem.dengan semangat 45+reformasi kami melaju ke simpang galon (pusat pertokoan dekat kampus). aku langsung turun ketika sampai ke toko terdekat, sedang TP menunggu di motor.

Aku: pak, ada prangko?

Pak Penjaga Toko: waduh, habis!

Dan percayakah saudara2? dialog ini terulang nyaris 20 kali! karena tiap fotocopy di area itu kehabisan perangko!

Apakah ada konspirasi untuk menjegal aku dan TP mengembalikan KRS?atau mendadak semua perangko ditarik dalam rangka HUT Pos yang ke 112? Atau ada orang mabuk cinta yang memborong semua perangko di jalan itu untuk mengirim setruk surat cinta?

Aku: gimana dong? (rada panik, soalnya jam 12 ASBAK udah tutup. sedang waktu di jam matahari sudah menunjukkan 11.30)

TP:....

Aku: kantor pos! ya, KANTOR POS!

dengan berbekal segala asa yang ada kami melaju ke kantor pos di dekat kampus.

Gak ada! kantor pos hilang ditelan bumi!

Aku: TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!

TP: lho?

Aku:....

Setelah berkomplot dengan segenap sel otak, kami dapat ide, kantor pos kan gak cuma di sini! mari kita ke kantor pos lain! yihaa! ide cemerlang! Horeee! (nari bodo)

Satu masalah, kantor pos lain yang kami ketahui jauh banget!

Tapi oke, no problemo. yang penting action dulu, mikir belakangan. karena helm cuma satu dan pergi tanpa helm depan belakang ke daerah pertokoan sama dengan tilang berharga 300rb, kami mencari jalan pintas.�

Di jalan pintas, aku bawanya pelaaaan banget. soalnya kan jalan pintasnya kecil dan banyak kelok2annya. bawa kencang2 sama aja dengan melompat dari jembatan ke kolam yang banyak buaya laparnya.

TP: aduh, lambat benar. gantian aja deh

Hiks, jujurnya kau TP. dengan senang aku gantian. pegal juga sih jadi supir mulu.

Dan akhirnya aku tahu kenapa TP nyuruh aku yang bawa motor dari tadi, soalnya soalnya soalnya: si TP itu PEMBALAP KEBANYAKAN MAKAN PETAI!

GILAAA banget bawanya. ngebut ngebit nyelap nyelip nyelup dan terakhir nyebur ke empang.Asli! pasti sarafnya terbuat dari karet, jadi bisa membal2 saat tabrakan.

Setiap dia menyalip satu mobil, satu truk, satu tronton, dan 500an motor, aku terus berdoa dalam hati. juga saat dia meliuk seperti ular dalam film india menghindari lubang, aku membaca kalimat talbiyah,

Pasrah

Lebih parahnya, tiap dia ngelakuin manuver2 maut, sempat2nya tanya,"Takut gak de?"

Aku:... (menyeringai)

Akhirnya, berbekal pengetahuan kami sebagai dua pasang itik yang tak pernah mengirim surat, kami sampai ke kantor pos itu. Akhirnya! bangunan berwarnya oranye itu terlihat sangat berkilau di mata kami. kalau saja gak ada satpam di sana, pasti kami udah cium2 tembok kantor post itu saking bahagianya.

Langkah berdebar, jantung bergetar, aku masuk ke dalam. celingukan bentar. tanya sana sini sampai disangka monyet sirkus lepas. Akhirnya, dua lembar perangko seharga 3000 terbeli sudah!

Alhamdulillah!

Hampir aku sujud syukur di sana saking bahagianya! Makasih Allah! makasih TP! makasih motor! makasih kantor pos!

Lalu, perjalanan pulang yang gak kalah serunya kami jalani dengan kebahagiaan yang lebih penuh dari perginya. Terpental2, nyaris terbang saat TP mempercepat motornya dan nabrak polisi tidur, hingga nyaris tabrakan dengan truk mini, tidak mengurangi kegembiraaanku.

Subhanallah...

Saat sampai di ASBAK yang udah mau tutup (12.05), air mataku hampir menetes saat menyerahkan 2 lembar perangko kuning, melengkapi semua syarat pengembalian KRS. oooh...indahnya dunia.

"rumahnya dimana sih?kos?" tanya pegawai jaga jutek

"di Sektor perikanan.gak, tinggal ma ortu" jawabku innocent

"Oh, dekat ya." katanya, Ya iyalah, cuma 5 menit dari kampus gitu lhooo.

"Kalau gitu gak usah pake prangko aja, kasih langsung sama ortu."katanya santai

Glek lagi.

Bikin sebel syalalalalala trilililili gak? Kenapa gak dari tadi? Dari awal sebelum kami mempertaruhkan jiwa dan anggota tubuh di jalan raya demi sehelai perangko?

Oh, tidak.

"Iya" jawabku pendek akhirnya, syok karena gempa pasca tsunami lokal.

Dan syok itu masih terasa hingga saat TP mengantarku pulang,kami terlalu sibuk melototin tempat jualan es krim (syok terapi ampuh)hingga motornya masuk ke lubang besar di jalan.

"AAAA!" serius, ini jeritan 2 orang. aku hampir terlempar, TP hampir terpelanting lompat2 tali karet.

Ya Allah...cobaaan apa lagi ini?