skip to main |
skip to sidebar
Aku mencintainya, salahkah? Dan rasanya selalu ada yang salah Seharusnya Ya, harusnya tidak ada yang salah Aku tetap di jalanNya, jalan kupu-kupu Tapi jalan ini bukanlah setapak menuju laut lepas dan langit biru yang mengobati semua haus
Jalan ini adalah jalan kesturi yang bertabur duri tajam, yang bahkan jika duri itu dapat tercabut dari kedalaman daging, perihnya akan menetap menjadi borok nyeri Hingga aku tersandung, meski Dia tetap menarikku berdiri kembali, menyuruhku tetap melangkah
Aku tetap ingin di jalanNya Makanya, aku menarik teman-teman bersamaku
Tapi mereka tidak mau ikut
Aku takut, bahwa aku tertinggal
Menatapi jalan gurun dan jingga yang membayang di jalan yang begitu lurus hingga ujung dan pangkalnya tidak membias kecuali dalam satu titik
Sendiri, hingga aku berpaling
Jalan kupu-kupu tidak memanggilku,
Bahkan bukan aku!
Bukan!!!
Lalu wajahnya begitu memikat dengan pesona
Padahal bukan wajah cahaya yang kucari
Bukan dia
Bukan aku
Masih begitu jauh, hingga perasaan nyeri ini menemukan pembungkusnya
Damai selamanya
*Catatan hati saat rindu menggetarkan ruang jiwa. moga tetap dalam penjagaanNya
Gambar dari: http://www.nccg.org/confuse.gif
Dokter, mungkin bukan sekedar profesi. Di masa lalu, dokter adalah dewa yang dihormati. Di masa kini, dokter tetap dewa. Tapi dewa yang dapat dipersalahkan, dapat dituntut, bhkn dijebloskan ke penjara saat melakukan kesalahan fatal: malpraktek
Patch Adams dalam bukunya yang juga berjudul Patch Adams, menyebutkan beberapa masalah kedokteran modern, diantaranya; terlalu kaku hingga anti humor, tidak mau menjalin kedekatan dengan pasien secara emosional, tidak ada tempat untuk basa-basi, menjadi dewa hingga berjarak dengan para staf di dunia kesehatan (perawat,staf administrasi,dll), terlalu dikhawatirkan dengan masalah penyakit dan malpraktik hingga menganggap pasien bukan lagi manusia, tapi hanya suatu atau kumpulan penyakit, mementingkan efisiensi dalam dunia jasa seperti mesin, uang diatas manusia, hingga sistem pendidikan kedokteran yang tidak mampu mencetak dokter yang bekerja dengan 'hati'.
"...tragisnya kami sebagai mahasiswa sedikit demi sedikit dicetak menjadi dokter yang menurut saya tidak berperikemanusiaan. Staf rumah sakit tidak dirancang untuk bekerja sama sebagai tim untuk menyembuhkan penyakit. Dokterlah yang dianggap tahu semua jawaban dan memerintah orang-orang di sekelilingnya,sering kali dengan kasar. Pemikiran semacam ini-dokter sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan pasien-MERUSAK karena menanamkan keyakinan, pada mahasiswa dan dokter, bahwa dokter memiliki smua jawaban. Tidak ada ruang untuk kerendahan hati atau kesalahan." (Patch Adams)
Lebih lanjut, Patch mengkritik sistem koas yang menurutnya tidak berperikemanusiaan. Serombongan orang berbaju putih menyerbu satu pasien yang ketakutan. Ssehingga dia menolak untuk melakukan kunjungan secara eksklusif, tapi memilih untuk mendekati pasien secara personal, dekat dengan mereka, hingga ke pijitan lembut sebagai bahasa kasih non verbal.
Saya tidak tahu bagaimana dunia koass di Indonesia. Juga dunia kedokteran yang sesungguhnya, karena status saya masih mahasiswa, tapi patch tahu. Dan jika memang dunia kesehatan telah berkembang begitu menyesakkan, mungkin perubahan memang diperlukan.
Patch memilih perubahan, tidak menunggu orang lain memulai untuknya. Maka didirikannya Gesundheit Institute, yang menyimpan semua harapan hidupnya akan sebuah hubungan kemitraan yang dibangun atas dasar persahabatan, kepercayaan, kegembiraan, hingga pengobatan holistik yang GRATIS! Dan untuk itu, Patch membayarkan seumur hidupnya. Untuk sebuah impian yang terlihat utopis,sebuah rumah sakit (mungkin lbh enak disebut hospital,rumah sakit berkesan negatif), yang dirintis dari tahun 1971 hingga 2009 ini dan belum selesai (38 tahun untuk sebuah impian!!!)
Patch, impian, dan bukunya sendiri adalah sebuah referensi yang bagus,teramat bagus untuk para dokter, mahasiswa kedokteran, dan masyarakat umum yang memimpikan sebuah pelayanan kesehatan yang berbasis hati. Kedekatan dokter dengan pasiennya yang lebih emosional, kunjugan penuh persahabatan.Terus terang, saya juga merindukannya...
Di Indonesia, adakah yang telah memulai mendobrak tembok ini???
Untuk menutup tulisan ini, saya quote kata2 Patch Adams, seorang dokter, badut, penghibur, dan pemimpi yang luar biasa:
"RAhasia hidup adalah memiliki suatu tugas, demi tugas itu kau curahkan seluruh hidupmu untuk mengerjakannya, demi tugas itu kau berikan segalanya, di setiap menit hidupmu sepanjang sisa hidupmu. Dan yang paling penting adalah, tugas itu adalah sesuatu yang TIDAK MUNGKIN Anda kerjakan" (Patch ADAMS)
*gambar dari: