Selasa, 20 Oktober 2009

dengan apa lagi harus kunyatakan cinta?

Allah...

bahkan dengan bahasa cintaku yang paling sederhana

ingin kuterjemahkan segumpal rindu ini padamu

gumam tanya, gaung sonor di ruang surau

dengan bentuk sesederhana apa cinta ini harus kusuarakan?

Bahkan hampa, gelisah saat memandang

sederet manusia, bertahta di warung kopi hingga petang membayang dan adzan memenuhi negeri dengan suara lelah,akan panggilan yang diabaikan

lalu dengan bahasa cinta apa akan kuisyaratkan rindu untuk serambi mekah?

ia mulai karam

saat aku memandang pintu mesjid, surau, mushalla,langgar

aku terkesiap,sebab daun pintu, jendela, bahkan mimbar mulai berdebu

maka dengan bahasa cinta mana lagi akan kunyatakan?

atau bahasa cintaMu, bersama tasbih ombak yang menggunung

lebih menyentuh hati para pecinta

dan aku, tidak lagi punya puisi cinta untuk disentakkan

hanya doa dan satu pinta

suatu hari kelak, hanya ayat-ayatMu yang menggema,

yang mampu mengalahkan kepulan asap rokok dan tawa yang menggema Maghrib...

Sinergi dan Keterpisahan

Sinergi, mungkin tidak perlu didefinisikan. sebab kita semua (mungkin) punya kamus bahasa indonesia yang disusun oleh para ahli, dan mereka mengerti dengan tepat apa itu sinergi, pemakaiannya, bahkan sifat dan bentuknya. hingga penggunaannya dalam kalimat; sinergikah engkau? yah, ini kalimat yang salah

Satu hal yang kupahami dari sinergi, adalah bahwa sinergi adalah suatu proses penyatuan keping keping yang tidak sama, tapi saling bersesuaian.seperti yin dan yang, kepingan puzzle, bumi dan langit. panas dan dingin...

semuanya bersinergi. saling memberi dan menerima, lalu mendatangkan energi. sebagaimana angin yang terbentuk dari perbedaan tekanan udara; satu tinggi dan satu lagi rendah, harmonika waktu yang terbentuk dari siang dan malam, bayi; penyatuan sperma dan ovum... semuanya adalah sinergi, yang melahirkan keselarasan, keseimbangan, dan keindahan.

lalu, untuk apa bertahan menjadi sesuatu, atau bergabung dalam apapun juga, jika tidak ada sinergi didalamnya? sinergi, memberikan warna bagi persahabatan, sebagaimana kuning benang sari di antara merahnya mawar. lalu saat tidak ada kesinergisan lagi, hilanglah semua.

saat pertama kali aku bergabung dengan FLP, aku tidak melihat apapun, kecuali satu: kesempatan untuk mencapai suatu kesinergisan. Aku berharap unsur kegelapan (gak jelas nih) dalam tulisanku akan bertabrakan dengan cahaya di rumah cahaya, dan akhirnya: SINERGIS.

tapi tidak, mungkin sekarang, TIDAK LAGI.

cahaya itu ada, kutemukan dalam tiap wajah-wajah tersenyum di dalamnya. bahkan dalam keakraban, dan tawa. Tapi kesinergisan? tidak lagi. aku berusaha, tapi kesinergisan adalah ttng dua unsur, dan itu, bukan denganku.

hanya untukku, mungkin.

Hingga aku menjauh, berharap suatu saat nanti, aku akan menemukan warna kesinergisan itu kembali, di rumah cahaya berhias senyum itu.

>Kamu akan kembali?

jika Allah mengijinkan, ya...

*sebuah penjelasan untuk sahabat2ku, atas kealpaanku yang telah kerap berulang. maafkan aku yg tak mampu bicara dngn bahasa lisan

Jumat, 16 Oktober 2009

Tentang Maaf


Mungkin kalau dia tidak bicara seperti itu, aku tidak akan ingat,
"Lupakan..." lalu kuturuti. aku melupakan, meski tidak sepenuhnya. hanya hatiku tidak mau memaafkan.Belum...
***
"De, memaafkan bukan berarti melupakan." satu nasihat yang berbeda saat kami duduk di atas bebatuan, menatapi batas laut sambil merasai air laut menjilat kaki hingga ke betis.

Aku menatapnya."bukankah forgiving is forgetting?"

Dia menggeleng,"Tidak selalu. Bahkan melupakan tidak berarti memaafkan."
Aku tertunduk, mengapa begitu sulit?

"Menurutmu, aku bisa?"

Dia menatapku, dalam hingga menyelami rasa ,dan dia hanya menyatakan satu kalimat yang membuat ombak yang menari-nari membasahi rok kami menenggelamkan hatiku,"Kamu pasti bisa De. jutaan orang bisa,kenapa kamu enggak? bahkan, kamu telah berhasil melewati semuanya sejauh ini."

"Menurutmu aku harus?"

Dia tidak segera menjawab, hanya merapikan roknya yang berantakan tertiup angin laut,"Tentu saja kamu harus de.Semua orang juga harus. Hanya saja, keharusan itu untuk dirimu, bukan untuk siapapun. Bahkan bukan untuk orang yang kamu benci. Itu untuk dirimu: ketenangan, dan kebahagiaanmu sendiri."

Aku menatapinya, dia, yang selalu membuatku salut dengan kemampuannya melewati badai. Bahkan sejak kami SMA, dia masih yang terbaik dengan ketenangan dan ketabahannya. Dia adalah sumber telagaku.
"Lalu kamu, akan kemana?"

Dia menjawab mantap, seolah kalimat itu telah lama menunggu untuk dimuntahkan, "Aku akan menikah De. Akhirnya, aku bisa bebas."

Kutatapi dia, tak mampu menyiratkan apapun;takjub. Usia kami sama. dan bahkan saat aku masih bergelut dengan kekonyolan-kekonyolan seorang remaja di usia menjelang 20, dia telah siap menutup lembar kesendirian dengan seorang pangeran di sisi. kutatap dia lebih teliti, tak ada keraguan dan kecemasan di bola matanya.
"Bagaimana kamu bisa begitu siap?"
Dia tersenyum, merapikan helai-helai rambut yang melompat-lompat dari balik kerudungnya."Ade, kamu tidak akan mengerti. Karena situasi kita berbeda. jika kamu di posisiku, kamu akan mengerti." Dia terdiam, "aku ingin bebas..."

Aku tersenyum. Kembali, kami menatapi ombak yang kian mengganas di penghujung siang. meski hatiku masih tergelitik dengan beragam hal, tapi hanya dengan kehadiran seorang sahabat yang dipersatukan dengan doa, membersamai dzikir ombak, semuanya menjadi bening. mengaminkan harapannya diam-diam. Allah...bebaskan dia.

aku merasai mataku hangat, meski bukan bermakna sedih. tapi lega yang tak bertepi

Akhirnya, aku siap memaafkan...

*Kenangan di Pantai uleelhe itu, bahkan aku tidak perlu kamera untuk mengabadikannya. Moga berbahagia, sahabat. Barakallah...

Sabtu, 03 Oktober 2009

karena tulisan adalah sayap hati


banyak yang kudapatkan,banyak juga yang kulupakan
mungkin hal paling dasar yang kulupakan tentang menulis, ngeblog
adalah tentang sebuah mimpi untuk
menyentuh hati manusia

ya, saat pertama kali aku menulis
lalu membuka blog
aku ingin menulis
merangkai sejuta kata dalam rangkaian kalimat, yang mampu menyentuh hati manusia:

membuka hati yang tertutup
menyembuhkan hati yang luka
menyatukan keping hati yang patah

karena tulisanku adalah penyambung sabda Ilahi
aku ingin semua dapat membacanya
mengenal dunia dalam diri mereka sendiri
karena itu aku tidak mengurung istana aksara ini hanya dalam diary

begitu indah terangkai niat saat pertama kali aku mencoba menggerakkan jari merangkai kata
mengukir makna
hingga aku terlupa
aku putus asa
menganggap aksaraku alpa dari menyentuh dinding hati

hari ini
seorang saudaraku mengingatkanku

karena hatinya telah tersentuh asa
oleh rangkaian alpabet yang mungkin telah terlupa
tentang sebuah negeri utopis yang bernaung damai

terima kasih...
telah mengingatkanku kembali

NB: makasih mbak nisa,your word inspired me again

Jumat, 02 Oktober 2009

Negatif

hari ini, aku bertanya: sudah sejauh mana perjalananku?

Jujur, terkadang aku lelah. lelah menjadi orang yang selalu dipandang baik, lelah menjadi orang yang selalu dilihat lekat oleh orang lain,"Gak pernah marah ya? bisa marah?"

Lelah.

Aku tidak selalu baik. juga bukan tipe orang yang mau pura-pura baik. aku selalu tampil apa adanya. atau setidaknya selalu berusaha

Tapi terkadang aku lelah.

Aku lelah tersenyum, lelah bersikap positif, lelah menebar kebaikan

Terkadang, aku kembali tergoda untuk bersikap radikal, revolusioner, pemberontak.

Di dunia dakwah kampus, aku tergolong manusia pemberontak.

bukan dengan kata-kata memang, aku tidak menyebutkan pemberontakanku dengan apa yang dapat kuucapkan, keterusterangan.

Tapi aku muak pada tingkah laku orang yang menjual simbol. bukan jenggot, jilbab lebar hingga menutupi betis, atau bahkan kata salam yang menjadikan kita muslim sejati, manusia sejati.padahal hijab itu hanya dipakai di dalam mushalla, sisanya berterbangan dalam kalimat menggoda, tawa, dan kemesraan berselimut.

membatasi aktifitas, menutupi diri dari ilmu lain,"Baca apaan tuh! mendingan baca Al-Qur'an."

That's right, tapi tepatkah tindakan menutupi diri dalam mencari ilmu? Bhkan Hudzaifah bertanya tentang keburukan disaat sahabat lain bertanya ttng kebaikan.

Ahhhh,....

bukankah ukuran keshalihan adalah ukuran Allah? Pembeda yang didapatkan bukan dengan mencari nama di mata manusia. bukan dengan ukuran itu.

aku salut, respek dengan orang-orang yang melabeli dirinya sendiri 'brengsek',bangsat, dan tidak mau dianggap baik, karena label 'baik' itu menjadi beban, berhala bagi diri sendiri.

aku tidak mau dianggap baik

aku/ana/gue/saya adalah manusia biasa

bahkan saat aku lelah, aku ingin jadi manusia

"De, kamu baik banget ya."

StOP IT!

aku tidak perlu itu, bahkan tindakan menjudge itu,"ngapain gabung di CIMSA? anak2nya aneh gitu."

yeah, i see.

But the fact, i seek for a real human, and i believe, they are everywhere. Manusia malaikat itu tidak hanya terkurung di tembok-tembok mesjid. mereka bisa ada di manapun.bahkan di warung kopi, tempat penjagalan, bahkan di sudut jalan tempat manusia makan manusia untuk hidup.bahkan di CIMSA sekalipun.

Aku selalu percaya itu.

Karena aku telah melihat beberapa diantaranya. Dan mereka, tidak mengurung kebaikannya di tembok mesjid, dan melempar kejahatannya di luar tembok untuk dikenakan kembali saat perlu. Tapi mereka menemukan itu dalam diri mereka, dan melemparnya ke sekeliling mereka, hingga menemukan fitrah yang sesungguhnya.

"Bengu lo."

It's better for me, setidaknya, tidak perlu berpura2 positif.

Gw bengu, selesai kan?