Selasa, 16 November 2010

Belajar (terus) dari Ibrahim

Belajar dari Ibrahim
Belajar tentang cinta
Belajar ketulusan
Belajar pengorbanan
Belajar keiklasan

Mana lebih berarti:
Allah atau anak?
Maka Ibrahim menjawabnya
Merelakan penyembelihan putra kesayangan,
Putra penyejuk mata
Putra yang telah melewati penantian hanya utk menatap matanya

Mana lebih engkau cintai,
Allah atau anak?
Maka Ibrahim menjawabnya dengan menempelkan pisau
Tepat di kerongkongan Ismail,
yang terus menyeru,
"Aku ikhlas, Ayah! Aku ikhlas!"

Mana Tuhan bagimu,
Allah atau anak?
Maka Ibrahim menutup mata,
menetakkan pisaunya
membunuh berhala dalam dirinya

Belajar dari Ibrahim
Kisah sepanjang masa tentang tauhid
Taat tak mengenal tepian

*sambil menanti adzan Maghrib berkumandang menembus tirai senja

Senin, 15 November 2010

Mengeja Rindu pada Pelangi

Memutuskan untuk melepas rindu pada selainNya adalah keniscayaan.

Mengapa?
Sebab rindu hanya berhak diperuntukkan bagi mereka yang berhak menerimanya. Bagi keluarga, orang-orang yang berdekatan sebagai kawan sejenis, orang-orang yang berhak menyentuh secara syariat.
Bukan untuk orang dari seberang laut, bukan untuk mereka rindu mengejawantah.
Dengan bahasa apa, rindu ini harus kuhapus?
Sederet, dua deret, lalu penyesalan menjelma.
Sebab rindu yang keliru.
Bahkan rindu pun bisa keliru!

Aku mengenal orang ini, jauh sebelum aku mengenal diriku secara utuh. Dia bagai pelangi, bagai hujan, bagai angin. Dia akan membagi kue kegembiraan bersamaku dan siap jika aku ingin membagi kue kesedihan. Dia selalu ada di ruang nyata dan mayaku. Siap mendengar, siap membalas semua keluh kesahku dengan bahasa menghibur. Sebab aku tidak ingin menumpahkan 'sampah' curhat kepada sahabat perempuanku.

Dia yang tidak bernama 11 huruf, dia yang tidak sebaya denganku, dia yang tidak pernah berkeluh kesah tentang kehadiranku. Hadirnya, saat itu dalam otak kecilku, bagai pelangi di waktu mentari kembali terik selepas badai menerjang.

Awalnya aku tidak berpikir ini salah. Toh tidak ada apapun yang terjadi, antara kami. Tidak ada kontak fisik, tidak ada waktu berdua-duaan, tidak ada kata-kata mesra. Tidak ada...
Hingga rindu hadir.
Ada kegembiraan melihat wajahnya, senyumnya, kebijaksanaan dan penerimaannya.
Ada resah jika sederet pesan tidak berbalas.
Ada ngilu jika dia hadir di tempat lain, bukan untukku.

Maka suatu hari, batinku berbisik senyap,
Cintakah ini?
Aku menggeleng, kuat. Tidak, cinta hanya setelah ijab kabul disahkan oleh saksi!
Tapi hatiku tetap bawel. Kalau bukan cinta, mengapa ada rindu?
Aku gagap. Sebab dia bagai matahari, bukankah kita selalu rindu matahari saat awan tebal menjelma kelabu? Bukan berarti kita mencintai matahari kan? Aku mencoba beretorika.
Benarkah? Aku hatimu. Aku tahu!

Aku gagap. Gagu.
Setelah itu hanya air, hanya kaca, hanya bening teramu sempurna dengan senyap.

Ya, apa namanya?
Apakah aku telah mengkhianati hatiku?

Laa taqrabu zinaa... Ayat itu tergiang-giang. Lembar Al-Israa', ayat ke 32.
Laa taqrabu katanya, JANGAN DEKATI! Sebab zina adalah menyangkut urusan farji, zina tubuh yang benar-benar haram.
Tapi perintahnya bahkan sudah dari jauh, dari JANGAN DEKATI!!!

Ah, hari ini hanya rindu. Hari ini hanya pesan. Hari ini hanya curahan hati.
Lalu besok?
Lusa?
Setahun berikutnya?
Aku belum berzina, tapi pintunya telah kuketuk.
Dengan komunikasi yang intens.
Dengan kedekatan hati.
Dengan curhat-curhat panjang.

Semuanya kuterjemahkan.
Hingga tanya menyergap seumpama laron menyerbu cahaya:
Adakah kebersamaan yang nyaris tidak pernah putus itu sesuai dengan keadaan? Dengan kebutuhan yang diperbolehkan syariat?
BENARkah itu?
Atau dalil tentang jarak, perbedaan, dan lain-lain hanya PEMBENARAN?

Aku meraba hatiku, dan sadar bahwa dia telah menjadi kehitaman. Nyaris tak kukenali lagi.
Aku luruh.

Maka jari-jemariku kembali menggantung. Terkadang menatap namanya di layar cahaya, lalu kembali menekan tombol.
Tidak, aku tidak akan menghubunginya.
Juga dalam tiap malam, saat benar-benar butuh teman bicara, aku akan menghampiri lembar-lembar putih.
Hmm... Sudah berapa lama aku meninggalkanmu?

Wajah dipaksa menunduk, saat wajah cahaya dengan senyumnya hadir, mengisi ruang pandang.

Bibir dipaksa beku, saat semua keinginan untuk berceloteh laksana pipit merindukan ladang menyeruak.

Langkah dipaksa menjauh, saat benar-benar ingin mendekat.

Sudah selesai?
Belum. Dan mungkin masih butuh lama untuk benar-benar usai.
Sebab masih rindu.
Menusuk hingga meredakan warna hujan. Menghilangkan gradasi warna.
Sebab hati masih berkicau tentang dosa. Sebab nafsu masih menginginkan hadirnya.
Sulit?
Sulit jika hanya berjuang sendiri. Sulit jika pemakluman-pemakluman nafsu masih diada-adakan. Sulit jika hanya bicara.

Satu hal yang menguatkan kesendirian ini, karena aku percaya, Yang Maha Penyayang masih disana. Masih ada selamanya disana. Untuk menjadi pegangan, saat kaki ini hampir saja tergelincir lumpur khilaf. Untuk menjadi kekuatan, untuk menjadi visi... Saat rindu teralih hanya untuk melihat diriNya kelak.

Aku masih percaya itu. Akan tetap percaya, Insya Allah...

*mengenang masa-masa sunyi, saat pernah nyaris kehilangan harapan padaNya. "Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku" (Sahal bin Abdullah Tasatturi)


Selasa, 09 November 2010

RANDOM~~~~

Hari ini saya masih tersesat di antara 4 buku, "Mencari Pahlawan Indonesia"nya Anis Matta, "Maalim fii Ath-Thariq" Sayyid Quthb, Chicken Soup for The Traveler's Soul, dan Happy Ending full Barokahnya Solikhin Abu Izzuddin.

Berhubung sudah penat sekali membaca buku (saya tidak pernah penat membaca, tapi melirik barisan huruf di buku bisa juga jadi melelahkan), maka saya memutuskan pindah ke komputer. Menghidupkan Winamp yang telah saya setel acak dan membiarkan pikiran demi pikiran bermunculan...

Kau tahu tentang hatiku yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku yang selalu mengenangmu selamanya
Kini kusadari Bahwa semua itu
Adalah salah, juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai

Saya termangu sejenak saat nasyid "Maaf tuh Berpisah'nya Tashiru ini mulai mengalun. Norak sekali! Itu kesan pertama saya tentang lagu ini. Nasyid, tapi seperti lagu cinta.

Maafkanlah segala khilaf yang tlah kita terlewati
Tlah membawamu kedalam jalan yang melupakan tuhan
Kita memang harus berpisah
Tuk menjaga diri
Untuk kembali mngarungi hidup
Dalam ridho ilahi

Saya kembali memikirkan tentang buku. Ma'alim fii Ath-Thariq, saya membacanya dengan penuh ekspetasi. Apalagi buku itu dibayar dengan gugurnya Sayid Quthb di jalan Allah, maka saya memikirkan tentang kata-katanya, "Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah, menolak menuliskan satu huruf pun untuk tunduk pada thagut", lalu ide-idenya. Semua tentang tauhid, tentang jihad, tentang manhad Laa ilaaha illallah... Ini adalah satu-satunya buku terlama yang saya baca. Sudah lebih dari 2 minggu di tangan saya, dan saya baru menginjak halaman 165. Buku Harry Potter 6 saja yang tebalnya nyaris 1000 halaman, saya bisa selesaikan dalam 5 jam potong waktu shalat dan makan.

Saya mengenang Sayid Quthb dan menghargai tiap kata-kata yang ditulisnya. Kata-kata yang melepaskannya dari julukan "liberalis" dan menggadaikan semua kenikmatan dunia yang pernah diraihnya.

Mengutip kata-kata dari Chicken Soup, seorang bernama William Penn yang tidak saya kenal berkata, "Aku menjalani hidup ini hanya sekali. Karena itu, jika ada kebaikan yang bisa kutunjukkan, atau perbuatan baik apapun yang bisa kulakukan bagi sesama manusia, biarlah aku melakukannya sekarang." Saya tidak setuju dengan kata "aku menjalani hidup ini hanya sekali", karena bukankah setelah ini masih ada kehidupan yang jauh lebih panjang? Tapi berbuat baik, memang hanya ini harinya, seperti Imam Ali ra pernah menyebutkan bhwa inilah hari amal TANPA hisab! dan kelak akan datang hari hisab TANPA amalan.

Kutahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci yang sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki


Saya kembali berkelana dalam pikiran saya. Kali ini tentang Harold, lagi-lagi dari Chicken Soup. Harold adalah seorang pengidap limfoma, sejenis kanker. Kanker itu telah menyebar ke otaknya dan dia akan segera menemui ajal. Saat para perawat bertanya apa keinginan terakhirnya, Harold menjawab, "Aku ingin melihat samudera."

Maka kisah setelahnya adalah kisah menakjubkan tentang pengumpulan dana besar-besarn untuk memobilisasi seorang penderita kanker menemui samudera. Dan semua itu dilakukan oleh para perawat Harold, tanpa pamrih apapun. Mereka melakukan publikasi besar-besaran dan mengumpulkan dana dari lembaga-lembaga dan bantuan perorangan.

8 oktober, Harold diberangkatkan ke California dengan 3000 dolar di sakunya, bersiap melihat laut.

4 hari kemudian dia pulang, dan saat ditanya, Harold menjawab singkat, "Samuderanya terbentang luas dan sangat luas sampai bertemu dengan langit."

Setelah itu penglihatannya memburuk dengan cepat, sampai kemudian buta sama sekali. Setelahnya adalah kisah klasik tentang penderita kanker, hingga hidup Harold berakhir pada tanggal 6 Maret 1998, hanya 2 minggu sebelum ulang tahunnya ke 19.

Membaca kisah ini, saya berpikir begitu cepat. Sehingga hanya bisa menangkap kata-kata.

Cinta.Kematian.Hidup.Senyum.Samudera.Harapan.Kasih.Memaafkan.

Hingga tersadar dari lamunan dan meneruskan pemikiran saya. Dari buku HERO, saya jadi teringat sederet kata, "Apapun peran kita, syurga obsesinya."

Bagaimana kita memaknai peran kita di dunia ini, maka seperti itulah kisah kita akan berakhir.

Kini kusadari Bahwa semua itu
Adalah salah, juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai

Saya membaca kisah Harold, dan terkagum saat menyadari bahwa banyak, begitu banyak kasih yang bertebaran di dunia ini. Para perawat Harold itu, melakukan pengumpulan dana untuk membawa seorang penderita kanker stadium akhir melihat samudera, nyaris tanpa ekspektasi apapun. Tanpa pemikiran apapun tentang keuntungan, tentang hubungan perkerjaan mereka dengan sebuah harapan terakhir pasien. Mereka hanya ingin melihat impian terakhir Harold terwujud, sesederhana itu.

Maka seperti itulah totalitas mereka. Totalitas, kata yang indah ya?
Mereka mungkin tidak berpikir tentang akhirat atau apapun. mereka hanya berpikir tentang kebahagiaan Harold, sesederhana itu. Bagaimana jika mereka bisa meniatkan tentang sesuatu yang LEBIH BESAR?

Maka saya menemukan keindahan dalam perpisahan, bersama harapan baru tentang kehidupan.

Dan bila takdirnya kita bersama
Pastilah Allah akan menyatukan kita


Nasyid ini selesai, saat menata diri kembali.
Saya harus menyelesaikan keempat buku itu.

*Maafkan untuk tulisan yang begitu random ini. Tetap semangat meniti hari, sahabat!^^

Selasa, 02 November 2010

Dari Jendela Dunia

jika rindu masih butuh pembuktian

mengapa rinai hujan mengalir tanpa tepian?

sebagian mencerca

sebagian mengambil nafas darinya

hari ini langit masih sudi menceritakansegenggam bahasa Tuhan pada kita

entah esok, entah lusa?

tsunami, Mentawai,Wasior telah habis dijelajahi

maka dengan bahasa apakah kita akan tertawa?

masih ada tarian

tawa

anak-anak

menundukkan rinai air

menjadikan muram, ceria yang mengangkasa

hingga pengampunan jatuh

hari ini

kita masih rindu

asbab cinta

langit,

masih adakah dialog hari ini?

sebelum merah merekah dari barat?

*saat hati mendendangkan bait-bait hijau

Senin, 01 November 2010

Mengeja Hitam

apa warna langit sekarang? Hitamkah?
Apakah engkau tahu hitam itu karena mendung atau karena malam?
Muungkin dua-duanya, bisa jadi.

Maka mari berhenti mengeja hitam,
mengeja hujan

belajarlah mencari bintang
dan merasai kesejukan

*saat Darussalam diselimuti hujan